FER Jabar 2026: Ekonomi Jawa Barat Lampaui Nasional, Pengangguran Masih 6,64 Persen

Capaian tersebut memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan sambutan dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat (FER Jabar) 2026 di Aula Tampomas, Sumedang, Selasa, 23 Juni 2026. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa

KabarSunda.com- Perekonomian Jawa Barat tumbuh 5,79 persen pada triwulan I 2026 atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,1 persen.

Capaian tersebut memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak.

Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum berpuas diri dan terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mencapai 5,79 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Namun kami belum puas dan terus berupaya mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Herman saat menyampaikan sambutan mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat (FER Jabar) 2026 di Aula Tampomas, Sumedang, Selasa, 23 Juni 2026.

Herman menjelaskan, kontribusi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat terhadap pertumbuhan nasional mencapai 1,2 persen.

Sementara dari sisi skala ekonomi, Jawa Barat menyumbang sekitar 31,2 persen terhadap perekonomian nasional dengan nilai produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai Rp1.119 triliun.

Menurut dia, besarnya skala ekonomi tersebut menunjukkan peran strategis Jawa Barat dalam menopang perekonomian nasional.

Berbagai program pemerintah pusat, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), juga turut mendorong perputaran ekonomi di daerah dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp50 triliun.

Dari sisi struktur ekonomi, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 50 persen.

Sementara investasi menjadi sumber pertumbuhan yang terus menunjukkan peningkatan.

Secara tahunan atau year on year, realisasi investasi Jawa Barat meningkat dari Rp251,1 triliun menjadi Rp296,8 triliun.

Nilai tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di Indonesia.

“Ini menunjukkan sekarang waktunya ekspansi. Namun pembangunan harus dilakukan secara progresif dan tetap hati-hati,” ujar Herman.

Meski investasi terus meningkat, Jawa Barat masih menghadapi tantangan di sektor ketenagakerjaan.

Tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 6,64 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 4,08 persen.

Menurut Herman, besarnya investasi yang masuk seharusnya dapat mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

Karena itu, pemerintah daerah berupaya memastikan pertumbuhan ekonomi yang tercipta semakin berkualitas dan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Herman juga menyoroti peran sektor jasa keuangan dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah.

Dia mengatakan pertumbuhan kredit di Jawa Barat masih berada di atas rata-rata nasional sehingga diharapkan mampu memperkuat pembiayaan dunia usaha dan investasi.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga terus mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD).

Saat ini, PAD Jawa Barat mencapai Rp4,74 triliun dan diharapkan mampu tumbuh lebih dari 14 persen bahkan menembus 20 persen seiring meningkatnya aktivitas ekonomi.

Tak hanya bertumpu pada aspek ekonomi semata, Herman mengatakan pembangunan Jawa Barat juga mengedepankan pendekatan berbasis budaya.

Menurut dia, nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan lingkungan.

“Ekonomi berbasis budaya menjadi salah satu kekuatan Jawa Barat. Karena itu budaya dan ekonomi harus berjalan bersama,” katanya.

Selain budaya, transformasi digital juga menjadi salah satu fokus pemerintah daerah.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum tersebut, akses digital memberikan pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat dengan tingkat penetrasi mencapai 51 persen.

Pemanfaatan teknologi juga semakin meluas. Sekitar 90 persen masyarakat telah menggunakan media sosial dan berbagai platform digital untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga aktivitas produktif lainnya.

“Ekonomi berbasis budaya dan digital harus berjalan beriringan. Keduanya menjadi modal penting bagi Jawa Barat untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” tutur Herman.

Melalui penguatan investasi, dukungan sektor keuangan, optimalisasi PAD, serta pengembangan ekonomi berbasis budaya dan digital, Pemerintah Provinsi Jawa Barat optimistis pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dapat terus meningkat dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional.