KabarSunda.com- Sejarah berdirinya Jawa Barat dibacakan menggunakan lima dialek Bahasa Sunda dalam rapat paripurna yang digelar di halaman Gedung Sate-Gasibu (Pasanggrahan Pancarasa) Bandung pada perayaan HUT ke-81 Provinsi Jabar, Rabu, 19 Agustus 2026.
Pembacaan sejarah tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam peringatan hari jadi Provinsi Jawa Barat tahun ini.
Narasi sejarah disampaikan dengan ragam bahasa yang mencerminkan kekayaan budaya Sunda di berbagai wilayah Jawa Barat.
Lima dialek yang digunakan yakni Bahasa Sunda Kulon yang dibawakan Suyedi, Sunda Betawi oleh Abdul Khoir, Sunda Cirebon oleh Dedi Setiawan, Sunda Dermayu oleh Supalikasin, serta Bahasa Sunda Priangan yang dibawakan oleh Godi Suwarna.
Sejarah yang dibacakan tidak hanya mengulas proses terbentuknya Provinsi Jawa Barat.
Juga perjalanan panjang daerah tersebut sejak masa penjajahan Jepang, persiapan kemerdekaan, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, hingga pembentukan Provinsi Jawa Barat dua hari setelah Indonesia merdeka.
Pembacaan juga menggambarkan perkembangan Jawa Barat hingga saat ini sekaligus menyampaikan harapan terhadap masa depan provinsi tersebut.
Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Goena mengatakan, rapat paripurna tersebut digelar untuk memperingati hari jadi ke-81 Provinsi Jawa Barat.
Ia pun menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Jawa Barat.
“Selanjutnya, kami sampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas perjuangan para pendahulu kita yang telah memperjuangkan Jawa Barat,” kata Buky.
Buky menjelaskan, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2010 tentang Hari Jadi Provinsi Jawa Barat, tanggal 19 Agustus 1945 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jawa Barat.
Penetapan tersebut tidak terlepas dari sejarah pembentukan delapan provinsi di Indonesia oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.
Menurut Buky, penetapan hari jadi Jawa Barat bukan sekadar momentum seremonial.
Berdasarkan Pasal 3 huruf A, B, dan C Perda Nomor 26 Tahun 2010, peringatan hari jadi memiliki maksud dan tujuan sebagai bentuk pengakuan serta penghargaan kepada pemerintah daerah.
Selain itu, momentum tersebut menjadi sarana untuk menumbuhkembangkan rasa persatuan dan kebanggaan daerah, sekaligus memperkuat kecintaan serta ikatan batin masyarakat dan berbagai elemen terhadap Jawa Barat sebagai daerah otonom.
“Sarana untuk menunjukkan jati diri masyarakat Jawa Barat yang memiliki keunggulan kualitas, komparatif dan kompetitif yang dapat memajukan pertumbuhan dan pengembangan pembangunan daerah,” tuturnya.
Peringatan HUT ke-81 Jawa Barat juga menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan daerah sekaligus menatap tantangan pembangunan ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Buky mengajak seluruh pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun daerah.
Ajakan tersebut diharapkan menjadi semangat bersama agar Jawa Barat tidak hanya mampu mempertahankan identitas dan kebanggaan daerah, tetapi juga terus meningkatkan kualitas pembangunan serta kesejahteraan masyarakat.
Penggunaan lima dialek Sunda dalam pembacaan sejarah pun menjadi simbol bahwa perjalanan Jawa Barat dibangun dari keberagaman budaya dan karakter masyarakat yang tetap berada dalam satu ikatan sebagai bagian dari Jawa Barat.












