KabarSunda.com- Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya oleh para ulama tradisionalis yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari bersama KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, dan beberapa ulama lainnya.
Pendirian NU dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mempertahankan ajaran Islam tradisional Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menolak pengaruh mazhab Wahabi yang ingin diterapkan Raja Ibnu Saud di Mekkah, yang dianggap mengancam keberagaman praktik keagamaan dan warisan Islam di Indonesia.
NU lahir sebagai organisasi yang bertujuan memperkuat persatuan ulama, melestarikan ajaran empat mazhab, serta mendukung pendidikan dan kesejahteraan umat Islam, khususnya di kalangan pesantren.
Organisasi ini juga berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengeluarkan Resolusi Jihad pada 1945 yang menyerukan perlawanan terhadap penjajah.
Tempat pendirian NU adalah kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya, dengan nama yang berarti “kebangkitan para ulama”.
KH Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar pertama dan merumuskan prinsip dasar organisasi yang menjadi pegangan warga NU hingga kini.
NU berperan sebagai partai politik pada masa tertentu, terutama 1950-an hingga awal 1970-an, kemudian kembali menjadi organisasi sosial keagamaan yang aktif secara kultural dan sosial-politik tanpa menjadi partai politik langsung.
Perkembangan NU dapat dibagi ke dalam beberapa fase penting:
1.Fase Awal Perintisan (1926-1952)
NU didirikan pada 31 Januari 1926 sebagai organisasi yang mewakili pandangan konservatif ulama tradisionalis dan menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme.
Pada masa ini, NU melakukan ekspansi geografis dan memperkuat basis sosialnya terutama di masyarakat pedesaan.
2.Periode Politik Praktis (1952-1984)
NU memisahkan diri dari Partai Masyumi dan membentuk Partai NU yang aktif dalam politik praktis.
Pada Pemilu 1955, Partai NU menempati posisi ketiga. Namun, keterlibatan politik ini menimbulkan dinamika internal sehingga NU sempat kurang fokus pada kegiatan keagamaan.
3. Kembali ke Khittah 1926 dan Transformasi (1984-sekarang)
Pada Muktamar Situbondo 1984, NU memutuskan kembali ke jalur organisasi sosial keagamaan (Khittah 1926).
Era ini ditandai dengan munculnya generasi kiai-intelektual seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membawa NU ke arah pemberdayaan umat dan demokrasi.
NU juga mengalami transformasi paradigma dari tradisionalis ke post-tradisionalis dengan keterlibatan aktif kaum muda di jalur kultural dan pemikiran progresif-liberal.
Secara keseluruhan, NU mengalami pergeseran dari organisasi keagamaan tradisional menjadi organisasi yang aktif dalam politik, sosial, dan budaya.
Dinamika internal dan eksternal membuat NU semakin eksis dan relevan dalam konteks sosial-politik Indonesia modern.
Selain itu, NU juga menekankan pentingnya menjaga kekayaan budaya nusantara dan semangat pluralisme dalam keberagamaannya.












