Akademisi IPB: Masa Depan Indonesia Ada di Desa, Dorong Mahasiswa Jadi Kades

KabarSunda.com- Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Sofyan Sjaf menegaskan masa depan Indonesia ada di desa.

Karena itu, kata Sofyan, jika desanya maju niscaya Indonesia akan menjadi bangsa yang maju, demikian sebaliknya. Sayangnya, saat ini di desa masih terdapat banyak pengangguran.

Tak hanya itu, Sofyan mengungkapkan masih banyak kepala desa yang kurang cakap untuk memimpin wilayahnya, sehingga tidak mengherankan jika hanya sebagian kecil desa yang masyarakatnya sejahtera.

“Karena itu saya mendorong agar para mahasiswa kembalilah ke desa, jika satu saat nanti kuliah kalian sudah selesai. Jadilah kepala desa,” kata Syofan dalam keterangannya, Minggu, 18 Mei 2025.

Pernyataan itu disampaikan Sofyan Sjaf saat menjadi narasumber pada acara Sarasehan Kehumasan MPR RI Menyapa Sahabat Kebangsaan.

Acara yang mengusung tema ‘MPR RI Ekologi Kebangsaan Dalam Harmoni Manusia dan Lingkungan’ tersebut berlangsung di Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 17 Mei 2025.

Sofyan mengatakan untuk mempercepat laju kesejahteraan, desa harus menjadi fokus pembangunan.

Selain itu, pembangunan yang dilaksanakan di desa harus berbasis dari data desa presisi.

Jangan terus mengulangi kesalahan data, seperti yang terjadi pada kasus bansos.

“Data tentang profil dan karakter masyarakat desa, itu bisa diketahui dengan mudah. Karena itu kita tak habis pikir, kenapa jumlah masyarakat miskin selalu banyak saat ada bansos,” kata Sofyan lagi.

Pendapat serupa disampaikan Yana Indrawan, staf ahli MPR dan juga pembicara kedua pada sarasehan kehumasan tersebut.

Menurut Yana, jumlah masyarakat miskin walaupun mengalami penurunan, namun penurunannya semakin landas.

Kemiskinan seperti kerak yang susah diatasi.

Padahal, kemiskinan bukan hanya buruk bagi masyarakat miskin sendiri, tetapi juga tidak baik bagi orang kaya.

Karena masalah kemiskinan masyarakat, bisa berpotensi menimbulkan kerawanan sosial, terlebih apabila kesenjangan sosial semakin lebar.

Untuk itu, menurut Yana, agar Pancasila dapat abadi sebagai dasar dan ideologi Negara, maka Pancasila harus menjadi ‘nyata’.

Rakyat Indonesia harus merasakan dalam ‘Rumah Pancasila’ segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia merasa dilindungi dan maju dalam kesejahteraan.

“Kita memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Dari laut saja, mengutip pendapat Rokhmin Dahuri Pakar Kelautan misalnya, laut kita memiliki potensi sangat besar, mencapai lebih dari lima kali APBN setiap tahunnya. Belum lagi kekayaan alam lainnya,” ungkap Yana Indrawan.

Meski banyak persoalan yang terus menghantui bangsa Indonesia, Yana Indrawan percaya lambat laun masalah itu akan teratasi.

Syaratnya, seluruh bangsa Indonesia menerapkan sila-sila dalam Pancasila.

Menurut Yana Indrawan, dengan mengamalkan sila pertama saja, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, seluruh persoalan bisa diatasi. Tuhan jangan hanya dihadirkan di ruang privat, Tuhan juga harus hadir di ruang publik.

Ketika penyelenggara negara akan membuat kebijakan, Tuhan hadir di situ. Ketika akan menandatangani keputusan, Tuhan pun hadir. Ketika akan melakukan apa pun, Tuhan selalu hadir.

“Dengan hadirnya Tuhan di ruang publik, maka korupsi dan bentuk penyelewengan lainnya akan lenyap di muka bumi Indonesia,” pungkasnya.