KabarSunda.com- Gemerlap listrik yang kini menerangi sudut-sudut Kota Majalengka, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah yang sangat panjang.
Kisah penerangan ini berawal dari lembaran arsip kolonial yang tercatat hampir satu abad silam.
Gagasan menghadirkan listrik ke wilayah Majalengka terungkap telah dirancang sejak era penjajahan Hindia Belanda.
Hal ini terbukti dari dokumen surat kabar bertanggal 16 Mei 1936 yang berjudul Het Licht van Madjalengka atau Cahaya untuk Majalengka.
Dalam arsip tersebut, pemerintah kolonial disebut tengah membahas proyek elektrifikasi untuk Majalengka dan kawasan sekitarnya.
Narasi pembuka koran itu bahkan menyampaikan optimisme yang kala itu menjadi harapan baru bagi masyarakat.
“Ada kabar baik yang sedang dipersiapkan bagi penduduk Majalengka dan sekitarnya. Saat ini tengah berlangsung perundingan mengenai elektrifikasi kota ini,” demikian terjemahan dari laporan berbahasa Belanda dari salah satu Pegiat Sejarah Majalengka dikutip RRI pada Selasa, 14 Juli 2026,
Dua perusahaan disebut terlibat dalam pembahasan sebagai calon pemasok tenaga listrik, yakni N.I. Gas Maatschappij dan G.E.B.E.O.
Rencana tersebut tidak hanya menyasar pusat Kota Majalengka, tetapi juga merangkul wilayah Kadipaten dan Djatiwangi dalam satu sistem kelistrikan terpadu.
Namun, di balik ambisi proyek besar itu, terselip skenario alternatif. Jika secara ekonomi dinilai tidak layak, pemerintah kolonial mempertimbangkan membangun perusahaan listrik skala lebih kecil yang hanya melayani Majalengka.
Bahkan, pemerintah kabupaten (regentschap) disebut siap mengambil alih proyek dan mengelolanya secara mandiri apabila pihak swasta enggan melanjutkan.
Rancangan proyek pun telah disiapkan oleh Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Air Hindia Belanda, menandakan keseriusan rencana tersebut.
Arsip kolonial tersebut tidak menjelaskan secara pasti akhir dari proyek elektrifikasi di wilayah Majalengka.
Dokumen itu belum mengungkap apakah proyek benar-benar terealisasi pada masa penjajahan atau baru terwujud setelah Indonesia merdeka.
Jejak sejarah ini kemudian diperkuat oleh penelusuran pegiat sejarah Majalengka, Nana Rohmana atau Naro.
Berdasarkan data yang ia kumpulkan, peresmian jaringan listrik pertama di Kota Majalengka diduga berlangsung pada 14 Februari 1937.
“Kalau melihat data yang saya temukan, peresmian listrik pertama di Kota Majalengka kemungkinan berlangsung pada 14 Februari 1937. Saat itu pengelola listriknya diduga adalah GEBEO, perusahaan listrik pada masa Hindia Belanda. Kalau sekarang, kurang lebih seperti PLN,” ujar Naro.
Tak hanya dari arsip tertulis, memori tentang listrik di masa kolonial juga hidup dalam cerita lisan.
Naro mengungkapkan, sang ayah pernah bercerita tentang keberadaan tiang listrik di Jalan Satari yang bahkan menjadi saksi bisu masa perang.
“Ayah saya pernah bercerita bahwa di Jalan Satari dulu sudah ada tiang listrik. Bahkan salah satu tiangnya berlubang akibat terkena peluru saat masa perang,” katanya menuturkan.
Selain itu, dokumentasi foto peninggalan Belanda menunjukkan pernah berdiri gardu listrik di kawasan Andir, yang dikenal dengan nama Sentral.
Bangunan tersebut, menurut cerita yang berkembang, dihancurkan oleh para pejuang Majalengka pada tahun 1947 sebagai bagian dari dinamika perjuangan mempertahankan kemerdekaan.













