KabarSunda.com- Inilah kabupaten terkaya nomor 5 di Jawa Barat yang ternyaya punya, bendungan terbesar bahkan melebihi Jatigede, Cirata dengan biaya yang fantastis.
Setidaknya ada lima daerah terkaya di Jawa Barat berdasarkan besar PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) per kapita mereka.
Merujuk dari data yang dibagikan Badan Pusat Statistik (BPS), inilah lima daerah tersebut.
Kota Bandung adalah yang paling kaya dengan memiliki Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita sebesar Rp 112.000.990.
Artinya ini yang menjadikan Kota Bandung dengan PDRB per kapita tertinggi di Jawa Barat.
Badan Pusat Statistik (BPS) adalah lembaga yang bertanggung jawab dalam penghitungan dan publikasi data PDRB di Indonesia.
Sementara itu, Kabupaten Karawang menduduki peringkat kedua dengan PDRB per kapita mencapai Rp 94.618.163.
Di posisi ketiga ada Kabupaten Bekasi yang mencatatkan PDRB per kapita sebesar Rp 80.150.044.
Keempat ada Kota Cirebon memiliki PDRB per kapita sebesar Rp 72.034.491.
Hal ini membuat Kota Cirebon berada di peringkat keempat dalam daftar daerah dengan PDRB per kapita tertinggi di Jawa Barat.
Purwakarta menempati posisi kelima di Jawa Barat, karena PDRB per kapita Kabupaten Purwakarta mencapai Rp. 79,19 juta.
Rupanya selain masuk sebagai kabupaten kaya di Jawa Barat, Purwakarta juga memiliki terbesar di Jawa Barat, yang pembangunannya menelan biaya fantastis.
Yakni Bendungan Jatiluhur yang terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Bendungan ini membendung aliran Sungai Citarum dan membentuk waduk dengan luas genangan sekitar 83 km persegi.
Bendungan Jatiluhur juga dikenal sebagai Waduk Ir. H. Juanda.
Selain Jatiluhur, Jawa Barat juga memiliki bendungan besar lainnya.
Bendungan Jatigede yang terletak di Kabupaten Sumedang, dan merupakan bendungan terbesar kedua di Jawa Barat setelah Jatiluhur.
Bendungan Cirata yang terletak di tiga kabupaten, yaitu Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat.
Menurut laman resmi Pemda Kabupaten Purkawakarta, pembangunan bendungan ini memakan waktu sekitar 10 tahun, dimulai pada tahun 1957.
Dengan biaya kira-kira sebesar 230 juta USD.
Selain fungsi utamanya sebagai waduk dan PLTA, kawasan ini juga menawarkan berbagai fasilitas rekreasi.
Untuk masuk ke kawasan wisata Waduk Jatiluhur, dikenakan biaya sekitar Rp 15.000 per orang pada hari kerja dan Rp 20.000 pada hari libur.













