KabarSunda.com- Kasus keracunan massal menimpa ratusan pelajar di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, setelah mengikuti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 30 September 2025.
Pemerintah daerah langsung bergerak cepat dengan menghentikan sementara dapur penyedia makanan serta menetapkan kejadian ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menegaskan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan sumber keracunan.
Baca Juga: Gubernur Jabar Dorong Sekolah Besar Miliki Dapur Mandiri untuk MBG
“Sampel makanan sudah diambil, hasilnya baru bisa diketahui sekitar satu minggu ke depan,” ujarnya kepada wartawan, Rabu, 1 Oktober 2025.
Dari penelusuran sementara, keterangan sejumlah siswa memberikan gambaran mengenai kemungkinan penyebab keracunan.
Menurut Bupati, sebagian anak yang makan tanpa meminum susu tidak mengalami keluhan, sedangkan mereka yang meminum susu justru merasakan gejala sakit.
“Ada anak yang hanya makan, tidak minum susu, ternyata sehat. Tapi ada yang tidak makan, hanya minum susu, malah mengalami masalah. Ini masih dugaan awal, kepastian menunggu hasil laboratorium,” jelas Abdusy Syakur.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Garut Leli Yuliani melaporkan jumlah korban terus bertambah hingga 282 orang. Dari total tersebut, 193 siswa sudah diperbolehkan pulang, 81 orang masih dirawat di Puskesmas Kadungora, dua orang di Puskesmas Leles, dan enam orang harus dirujuk ke RSUD dr. Slamet Garut.
“Sebagian besar korban sudah pulih dan menjalani rawat jalan di rumah, sisanya masih mendapat penanganan intensif,” tutur Leli.
Korban diketahui merupakan pelajar dari SDN 3 Talagasari, SMPN 1 Kadungora, SMP PGRI, dan SMA Annisa. Mereka mengeluhkan gejala serupa berupa mual, pusing, muntah, diare, hingga sesak napas usai menyantap menu MBG berisi nasi, daging sapi, edamame, sayuran, pisang, serta susu kemasan.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Garut menghentikan sementara dapur MBG yang menyediakan makanan untuk para siswa. Pemerintah daerah juga menyiagakan tenaga medis di puskesmas maupun rumah sakit guna mempercepat penanganan korban.
“Untuk sementara kegiatan MBG dihentikan dulu sampai hasil laboratorium keluar,” kata Bupati.
Dengan status KLB, pemerintah berharap penanganan korban dapat lebih maksimal sekaligus mencegah kasus serupa terulang kembali. Warga diminta tetap waspada namun tidak panik sambil menunggu hasil uji resmi penyebab keracunan.











