KabarSunda.com- Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki dampak strategis terhadap pembangunan manusia Indonesia sekaligus berpotensi menggerakkan ekonomi daerah sebagaimana dipaparkan dalam buku Makan Bergizi Gratis (MBG) karya Asep D Darmawan dan Luthfie Hadie Nugraha Darmawan.
Dalam buku tersebut, MBG dijelaskan bukan sekadar program bantuan makanan, tetapi bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kebutuhan Pangan dalam Skala Besar
Untuk kepentingan analisis, satu porsi MBG diasumsikan terdiri dari sumber karbohidrat, protein hewani, sayuran, buah-buahan, serta susu atau pengganti kalsium.
Dengan target 82,9 juta porsi per hari, kebutuhan beras diperkirakan mencapai sekitar 8.290 ton per hari atau sekitar 3,03 juta ton per tahun.
Jumlah tersebut setara sekitar 10–12 persen produksi beras nasional tahunan.
“MBG memiliki daya pengaruh signifikan terhadap stabilitas produksi, distribusi, dan harga beras nasional,” tulis penulis dalam buku tersebut.
Dorong Peternakan dan Perikanan
Dalam sektor protein hewani, kebutuhan telur diperkirakan mencapai sekitar 82,9 juta butir per hari atau sekitar 30,3 miliar butir per tahun.
Angka tersebut disebut setara sekitar 70–80 persen produksi telur nasional sehingga pemenuhan protein dinilai tidak memungkinkan hanya bertumpu pada satu komoditas.
Sementara kebutuhan daging ayam diperkirakan mencapai sekitar 3.316 ton per hari atau sekitar 1,21 juta ton per tahun.
“Besaran ini relatif lebih realistis apabila dikombinasikan dengan telur dan protein hewani lainnya,” tulis buku tersebut.
Prof Ojat Darojat Apresiasi Buku MBG
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., mengapresiasi kehadiran buku MBG: Investasi Gizi, Pendidikan, dan Ekonomi Masa Depan Indonesia karya Dr. H. Asep D. Darmawan, S.Pd., M.Pd. dan Luthfie Hadie Nugraha Darmawan, S.T., M.M., karena dinilai membahas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Menurut Ojat, pembangunan SDM Indonesia tidak hanya bergantung pada luasnya akses pendidikan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk kecukupan gizi bagi anak usia sekolah. Ia menilai gizi, pendidikan, dan produktivitas ekonomi memiliki keterkaitan erat dalam membentuk generasi masa depan.
“Anak-anak yang tumbuh dengan gizi yang baik memiliki kapasitas belajar yang lebih optimal, daya tahan kesehatan yang lebih kuat, serta peluang yang lebih besar untuk berkembang menjadi generasi yang produktif di masa depan,” ujar Ojat dalam pengantar buku tersebut.
Program MBG Dinilai Strategis
Ojat menyebut Program Makan Bergizi Gratis hadir sebagai salah satu upaya memperkuat fondasi pembangunan manusia Indonesia. Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga berdampak terhadap kualitas pendidikan dan pembangunan ekonomi jangka panjang.
Dengan memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang memadai, kata dia, Indonesia sedang menyiapkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Salah satu kebutuhan fundamental tersebut adalah kecukupan gizi bagi anak-anak usia sekolah,” katanya.
Buku Diharapkan Jadi Referensi Kebijakan
Lebih lanjut, Ojat menilai buku karya Asep D. Darmawan dan Luthfie Hadie Nugraha Darmawan tersebut mencoba melihat Program MBG dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya sebagai kebijakan sosial, tetapi juga sebagai investasi pembangunan manusia yang berdampak strategis bagi masa depan bangsa.
Ia mengaku melihat keseriusan penulis dalam mengkaji berbagai dimensi program MBG melalui pendekatan akademik, kebijakan publik, dan realitas sosial di masyarakat.
“Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi atas hadirnya buku ini,” ujarnya.
Ojat berharap buku tersebut tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga menjadi referensi bagi pengambil kebijakan, akademisi, praktisi pendidikan, dan masyarakat luas dalam memahami pentingnya investasi gizi sebagai fondasi pembangunan SDM Indonesia.













