Bandara Kertajati Sepi, Disebut AHY “In The Middle of Nowhere”

KabarSunda.com- Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai sepinya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka tak lepas dari pemilihan lokasinya.

Menurut AHY, meski bangunannya megah dan nilai investasinya mencapai Rp 2,6 triliun, namun justru terus merugi karena sepinya penerbangan di sana.

Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers “Satu Tahun Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang juga disiarkan secara live di YouTube Kemenko Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan.

“Siapa yang pernah ke sana? Seperti apa Kertajati? Sepi? Tapi bagus kan? Besar, bagus, megah, tapi in the middle of nowhere, di Majalengka, kawasan Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati) namanya,” ucap AHY dikutip pada Jumat, 24 Oktober 2025.

Mengutip Cambridge Dictionary, “in the middle of nowhere” adalah idiom untuk menyebut sesuatu lokasi yang jauh dari mana-mana.

In the middle of nowhere” juga merujuk pada kawasan yang lokasinya terpencil dan jumlah penduduknya sangat sedikit karena jauh dari pusat aktivitas.

Menurut AHY, ada kesalahan perencanaan dalam mega proyek yang didanai APBN dan APBD Jawa Barat tersebut, salah satu yang krusial yakni bandara yang terlanjur dibangun namun minim akses transportasi.

“Mungkin awalnya dulu kurang terintegrasi, bandaranya dibangun, tapi konektivitasnya terlambat, sehingga tanggung,” kata AHY.

“Kalau gitu mending di Jakarta sekalian, lalu ditinggalkan, sepi. Padahal, besar, bagus, infrastrukturnya lengkap. Tapi hanya di bandara itu, kawasannya belum hidup,” tegasnya.

Bandara Kertajati terus merugi

Sebagai informasi saja, Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sempat jadi polemik beberapa waktu lalu usai disinggung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyani.

Untuk diketahui saja, Bandara Kertajati pernah dimasukkan dalam Program Strategis Nasional (PSN) dengan pembangunan sejak 2015 hingga 2017 dilakukan menggunakan anggaran APBN melalui Kementerian Perhubungan.

Setelah melalui proses panjang, Bandara Kertajati resmi beroperasi pada 24 Mei 2018. Proses pembangunan Bandara Kertajati dilaporkan menelan biaya hingga Rp 2,6 triliun.

Anggaran ini belum termasuk biaya dari APBD yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat untuk pembebasan lahan.

Saat ini, pengoperasian Bandara Kertajati menjadi tanggung jawab PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB). BIJB merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dibentuk oleh Pemprov Jawa Barat pada 24 November 2013.

Dikutip dari Tribun Cirebon, Dedi menyindir Bandara Kertajati kini ibarat “peuteuy selong” yang dalam Bahasa Sunda berarti pohon lamtoro dan sering digunakan untuk menyindir sesuatu yang besar tapi kosong melompong.

“Majalengka ke sananya sudah ada bandara. Padahal sekarang udah berubah jadi peuteuy selong. Kenapa jadi peuteuy selong (Bandara Kertajati sepi)? Kan nggak ada pesawatnya, nggak maju-maju,” ujar Dedi Mulyadi di hadapan jajaran Forkopimda dan anggota DPRD Majalengka.

Dedi Mulyadi mengakui, selama tiga bulan menjabat sebagai Gubernur Jabar, ia belum bisa mengambil langkah cepat terhadap kondisi BIJB Kertajati saat ini.

Ia juga mengungkapkan, Pemprov Jabar harus menanggung biaya operasional bandara sebesar Rp 60 miliar per tahun. Kondisi ini, menurut Dedi, menjadi beban yang perlu dicarikan solusi.

“Kan nombok setiap tahun Rp 60 miliar untuk bandara. Harus bagaimana (solusi Bandara Kertajati sepi),” tanya Dedi.