KabarSunda.com- Suasana haru tampak di acara perpisahan siswa kelas XII SMAN 2 Kuningan, Sabtu (9/5/2026). Di hadapan ratusan siswa, dan guru. Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, menyampaikan pesan tentang kehidupan setelah masa sekolah.
Bupati Dian hadir bukan hanya sebagai kepala daerah. Namun juga selaku Ketua Komite SMAN 2 Kuningan, alumni sekolah ini, dan juga sebagai seorang ayah dari Ananda Alea yang hari ini lulus.
Dalam sambutannya, Bupati Dian mengibaratkan masa sekolah sebagai hulu sungai yang tenang. Setelah lulus, para siswa akan memasuki “samudera kehidupan” yang lebih luas dengan tantangan yang tidak selalu mudah.
“Dunia di depan kalian bukan lagi halaman sekolah yang penuh keteraturan. Di luar sana kalian akan tumbuh untuk belajar menghadapi berbagai persoalan,” lanjutnya.
Ia mengingatkan para lulusan agar tidak takut menghadapi dunia baru. Menurutnya, seseorang tidak akan menjadi kuat jika terus berada di zona nyaman.
“Pohon besar tidak tumbuh karena terus dilindungi dari angin. Ia kuat karena berkali-kali diterpa badai,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat, Dian berpesan agar para siswa tidak kehilangan nilai-nilai dasar kehidupan.
Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki peluang menjadi apa saja, mulai dari dokter, guru, pengusaha hingga kreator konten. Namun, kecerdasan saja dinilai tidak cukup tanpa karakter dan kepedulian.
“Hormat kepada orang tua, santun kepada guru, dan peduli kepada sesama, empati, tanggung jawab, dan memiliki integritas,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Bupati Dian menyampaikan penghormatan kepada para guru yang selama ini mendidik dan membimbing siswa dengan penuh kesabaran. Ia meminta para lulusan tidak melupakan jasa guru serta setiap nasihat yang pernah diberikan.
Kepada para orang tua, Bupati Dian juga menyampaikan terima kasih karena telah menjadi kekuatan utama bagi anak-anak mereka hingga mampu menyelesaikan pendidikan.
Salah seorang siswa, Albie Angjiro dari kelas XII MIPA 8, mengaku momen kelulusan menjadi saat yang paling berat karena harus berpisah dengan teman-teman seperjuangan yang selama ini tumbuh bersama.
Menurutnya, kebersamaan selama di sekolah menjadi hal yang paling sulit dilupakan. Berbagai kegiatan, mulai dari belajar bersama hingga menghadapi tekanan akademik, justru mempererat hubungan antarsiswa.
Selama menempuh pendidikan di SMAN 2 Kuningan, Albi mengaku banyak pengalaman yang membentuk karakter dan cara berpikirnya. Salah satunya melalui Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Ia menilai Pancasila harus tetap menjadi pedoman, terutama bagi generasi yang akan menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Sangat miris jika kita melupakan Pancasila. Sebagai warga negara, kita dituntut untuk mengamalkan nilai-nilai dalam setiap silanya,” ujarnya.
Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi digital, Albi juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan nilai-nilai kebangsaan.
Selain aktif dalam kegiatan sekolah, Albi juga berhasil menorehkan sejumlah prestasi. Ia pernah meraih Juara 2 Lomba Cerdas Cermat (LCC) MPR RI tingkat Provinsi Jawa Barat serta mengikuti ajang Islamic Finance Olympiad Competition (ISFOC) bidang Keuangan Syariah hingga tingkat nasional.
“Semua pengalaman itu membuat saya belajar tentang tanggung jawab, kerja keras, dan bagaimana membawa nama baik sekolah. Hal penting yang perlu diingat, jangan pernah melupakan teman lama, karena kita pernah bersama di SMAN 2 Kuningan,” ungkapnya.











