KabarSunda.com- Ditengah gempuran era digitalisasi, bukan berarti harus meninggalkan identitas budaya. Bahkan, adanya digitalisasi ini menjadi peluang untuk lebih mengembangkan produk-produk etnik yang ada di Jawa Barat (Jabar).
Sejauhmana peran Kadin Provinsi Jabar dalam menjaga dan memasarkan berbagai macam produk etnik atau tradisional yang di Jabar? Ini hasil wawancara khusus wartawan KabarSunda.com, Ma’mun Aliah M dengan Agung Suryamal Sutisna, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Wilayah Jabar I yang ditemui di kantornya pada Senin, 15 Juni 2026.
Bagaimana tanggapan Anda dengan maraknya digitalisasi jika dikaitkan dengan ekonomi di Jabar?
Adanya digitalisasi ini tentu lebih memudahkan kita melakukan ekspansi dan bersinergi dengan berbagai institusi lainnya. Misalnya, Kadin akan lebih mudah dalam memasarkan pruduk-produk etnik.
Kadin sebagai fasilitator bagi pengusaha harus bisa melihat peluang ini dengan memanfaatkan jaringan kami untuk membantu pemasaran ke negara lain.
Termasuk melakukan kunjungan atau studi banding ke negara-negara sahabat. Ini salah satu forum bisnis.
Bagaimana dengan produk lokal yang berbasis budaya?
Malah produk lokal yang berbasis budaya bisa dikerjasamakan dengan negara-negara yang sudah maju yang memiliki teknologi.
Jadi kita kombinasikan menjadi produk yang bernilai jual di internasional. Misalnya kita punya rotan, Jepang punya teknologi.
Ini salah satu sinergi yang dibangun Indonesia dengan negara yang teknologinya sudah maju.
Apa ada program khusus Kadin dalam meningkatkan penjualan?
Ada. Kita sering melakukan pameran di luar negeri, misal kopi ikut pameran di Jerman.
Di sana kita bisa berinteraksi dengan buyer (pembeli) dan peserta dari negara lainnya.
Karena konsumsi kopi di dunia saat ini sangat besar.
Produk-produk etnik apa di Jabar yang bisa dijual di kancah nasional dan internasional?
Di Jabar misalnya fesyen, terutama baju muslim dengan tidak menghilangkan nilai-nilai culture-nya.
Kita ekspor ke Malaysia, bahkan Dubai.
Berapa jumlah pengusaha lokal yang bernaung di bawah Kadin Jabar?
Saat saya menjabat sebagai Ketua Kadin Jabar selama dua periode itu angkanya mencapai puluhan ribu.
Bagaimana Anda melihat potensi ekonomi kedepan ditengah tekanan ekonomi global?
Begini, kalau produk kita untuk komoditi sebenarnya masih luas, contohnya batubara, sawit. Lalu sumber daya alam seperti nikel dan bauksit.
Nah, kalau di Jabar ya manufaktur dan tekstil
Peran Kadin dalam menjaga identitas budaya lokal ditengah digitalisasi?
Kalau bicara digitalisasi kita mau tidak mau harus mengikuti, karena perkembangan zaman. Tetapi jangan sampai menghilangkan identitas budaya kita.
Contoh Jepang, salah satu negara moderen tapi tidak meninggalkan budayanya.









