KabarSunda.com- Kirab Mahkota Binokasih merupakan momen yang tidak terlupakan bagi Sri Radya Pangawulan Sumedang Larang, H.R.I Lukman Soemadisoeria dan Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga.
Betapa tidak, sebelum prosesi budaya bertajuk Napak Tilas Padjadjaran itu menyisakan cerita-cerita menarik yang membuat hati mereka berdua sempat waswas.
Selain rayuan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (KDM) yang meminta Sri Radya mengizinkan Mahkota Binokasih yang asli diarak di prosesi budaya, KDM juga menantang Sri Radya bersedia menguji keaslian emas Mahkota Binokasih dan seluruh keris peninggalan kerajaan.
Sambil tertawa, Sri Radya Lukman mengaku jantungnya berdebar-debar saat ada permintaan gubernur itu.
Pasalnya, belum ada hasil penelitian yang resmi terhadap seluruh peninggalan kerajaan yang ada di museum, termasuk Mahkota Binokasih.
“Saya sempat waswas juga. Hati bercampur aduk. Dalam hati saya jangan-jangan kandungan emas dalam mahkota dan keris tersebut tidak terbukti,” cerita Sri Radya Lukman sambil tertawa saat menjamu KabarSunda di Karaton Sumedang Larang, pada Senin, 17 Juni 2026.
Suasana hati yang sama juga dialami Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga.
“Soalnya benda-benda bersejarah tersebut belum pernah dites secara ilmiah selama berada di museum Keraton Sumedang,” aku Luky.
Setelah melalui pengujian material secara ilmiah oleh tim dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan IX Jawa Barat bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat serta UPTD Kebudayaan Jawa Barat, Mahkota pusaka Binokasih Sanghyang Pake dan seluruh keris kerajaan dipastikan asli emas.
Pengujian material Mahkota Binokasih dilaksanakan pada 13 Maret 2026 atau bertepatan dengan 23 Ramadan 1447 Hijriah di lingkungan Keraton Sumedang Larang.
Analisis dilakukan menggunakan metode X-ray Fluorescence (XRF), yakni alat analisis non-destruktif yang dapat mengidentifikasi komposisi unsur logam tanpa merusak benda bersejarah.
Proses pengujian disaksikan langsung Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan IX Jawa Barat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, serta Radya Anom Keraton Sumedang Larang.
“Pengujian ini menunjukkan hasil yang memuaskan. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dinyatakan original atau asli emas dan memiliki karakteristik yang sejaman dengan era Majapahit–Sunda Galuh,” jelas Luky.
Luky mengatakan, pengujian tersebut penting untuk memperoleh data ilmiah mengenai karakteristik dan komposisi material mahkota pusaka yang selama ini menjadi simbol legitimasi sejarah dan kebesaran kerajaan di Tatar Sunda.
Temuan ilmiah ini semakin memperkuat nilai sejarah dan pelestarian warisan budaya Keraton Sumedang Larang.
“Hasil ini menjadi bukti ilmiah yang menegaskan keaslian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake sebagai pusaka bersejarah yang sangat berharga bagi masyarakat Sumedang dan bangsa Indonesia,” tandas Luky.









