Cerita Dibalik Budaya Napak Tilas Padjadjaran: Dedi Mulyadi Merayu Sri Radya Lukman Agar Mengizinkan  Mahkota Binokasih yang Asli Diarak

Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga didampingi Sri Radya Pangawulan Sumedang Larang H.R.I Lukman Soemadisoeria saat menerima KabarSunda di di Karaton Sumedang Larang, pada Senin, 17 Juni 2026.

KabarSunda.com- Ada cerita menarik sebelum Kirab Mahkota Binokasih menyapa warga di berbagai penjuru Jawa Barat (Jabar).

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi sempat merayu Sri Radya Pangawulan Sumedang Larang, H.R.I Lukman Soemadisoeria agar mengizinkan Mahkota Binokasih yang asli diarak di prosesi budaya bertajuk Napak Tilas Padjadjaran.

Upaya Gubernur merayu Sri Radya Lukman, awalnya tidak berhasil.

“Sudah banyak pihak yang meminta agar Mahkota Binokasih yang asli diarak pada setiap prosesi kirab, tapi saya menolak. Termasuk Pak Gubernur,” ujar Sri Radya Lukman saat ditemui di Karaton Sumedang Larang, pada Senin, 17 Juni 2026.

Penolakan Sri Radya Lukman ini, tidak membuat upaya Dedi Mulyadi untuk mengarak mahkota asli berhenti.

“Saya terus dirayu agar menuruti permintaan beliau,” tandas Sri Radya Lukman.

Hingga akhirnya hati Sri Radya Lukman luluh. Ia bersedia menuruti permintaan Dedi Mulyadi.

Hal senada juga dikatakan Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga. Awalnya, pihak keraton keberatan saat mahkota asli yang akan diarak.

“Banyak pertimbangan sehingga kami awalnya menolak. Salah satunya faktor  keamanan,” jelas Luky.

Tapi pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dalam hal ini Gubernur Jabar menjamin keamanan selama kirab mahkota.

Seperti diketahui, prosesi budaya bertajuk Napak Tilas Padjadjaran ini membawa Mahkota Binokasih keliling delapan kabupaten dan kota dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memutuskan menggunakan kereta kencana untuk mengarak mahkota peninggalan Kerajaan Sunda tersebut.

Langkah ini diambil untuk mengangkat kembali nilai-nilai leluhur dalam tajuk Milangkala Tatar Sunda.

Rangkaian kirab budaya ini telah dimulai sejak Sabtu (2 Mei 2026) di Sumedang dan akan berakhir dengan pertunjukan kolosal di Kota Bandung.

Berikut rute yang telah ditempuh saat prosesi budaya Mahkota Binokasih:

  • Sabtu, 2 Mei 2026: Dimulai dari Museum Geusan Ulun, Sumedang.
  • Minggu, 3 Mei 2026: Rombongan bergerak menuju Kawali, Ciamis.
  • Senin, 4 Mei 2026 (Malam): Kirab menyambangi Kampung Naga, Tasikmalaya.
  • Selasa, 5 Mei 2026: Perjalanan berlanjut menuju Cianjur.
  • Jumat, 8 Mei 2026: Kedatangan di Kota Bogor.
  • Sabtu, 9 Mei 2026: Rombongan menuju Depok.
  • Minggu, 10 Mei 2026: Kirab sampai di Kabupaten Cirebon.
  • Sabtu, 16 Mei 2026: Puncak kirab budaya seluruh daerah di Kota Bandung menuju Gedung Sate.

Acara penutup digelar “Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda” di Gedung Sate yang menampilkan pertunjukan kolosal kebudayaan pada Minggu, 17 Mei 2026.