KabarSunda.com- Nama Karawang mengingatkan puisi pujangga kenamaan Chairil Anwar berjudul ‘Krawang-Bekasi’.
Bagi peminat naskah Sunda kuno, nama ini akan membawanya kepada Kitab Bujangga Manik, di mana Karawang disebut oleh peziarah dari Kerajaan Pajajaran tersebut.
Karawang memang menyimpan banyak sejarah, di situ ada jejak jelas kehidupan keagamaan berbentuk candi.
Namanya, Candi Batujaya di Kabupaten Karawang. Candi ini diduga dibangun pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi. Boleh jadi, kehidupan manusia di sana lebih tua dari candi tersebut.
Ada yang menduga, Karawang merupakan daerah yang telah ada sejak awal Masehi. Wilayah ini telah aktif sebagai wilayah perdagangan sejak zaman Kerajaan Tarumanagara. Hal ini mengingat lokasi Karawang yang berbatasan dengan Laut Jawa.
Nama Karawang ada banyak versi asal-usulnya. Ada yang menyebut berasal dari kata Kawang, ada pula yang menyebut Ke-Rawaan karena wilayahnya banyak rawa.
Nama Karawang diduga sudah dikenal sejak hampir 1.800 tahun lalu. Hal itu berdasarkan sejumlah catatan kuno dari Tiongkok yang menyebut adanya sebuah pusat perdagangan penting bernama Koying di kawasan Nusantara.
Salah satu catatan tertua yang menyebut nama tersebut terdapat dalam ‘Catatan dari Daerah Selatan’, yang ditulis oleh seorang pengelana Tiongkok bernama Wan Chen pada masa Dinasti Wu, sekitar tahun 220-280 Masehi. Koying digambarkan sebagai pelabuhan besar tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari India.
Dalam catatan-catatan kuno Tiongkok, Koying juga ditulis sebagai Ge-ying. Daerah tersebut dikenal sebagai pusat perdagangan yang menghasilkan dan mengekspor mutiara, emas, permata, serta berbagai hasil bumi. Koying merupakan wilayah yang cukup dikenal dalam jalur perdagangan Asia pada masa itu.
Namun, dugaan ini belum mengarah pada kepastian bahwa Koying adalah Karawang saat ini, kecuali pendapat yang mendekatkan Koying dengan kata Kawang, sebagaimana kata itu dilafalkan dalam bahasa Tiongkok.
Daerah Penghasil Apu
Pada abad ke-15 Masehi, seorang bernama Prabu Jaya Pakuan atau yang menyebut dirinya sendiri sebagai Bujangga Manik telah menapaki sejumlah daerah di Karawang.
Lebih dari itu, dia menginformasikan bahwa daerah ini terkenal dengan apu, yakni kapur yang diendapkan dan biasanya dijadikan bahan utama dalam ‘nyeupah’ atau sugi pinang.
Bujangga Manik melakukan dua kali perjalanan di Pulau Jawa dan Bali. Dia menuliskan catatan perjalanannya dan menyebutkan banyak tempat di situ.
Di sana, selain menyebutkan ‘Patenggeng’ sebagai wilayah di Karawang tempat jatuhnya sumbat lava Gunung Sunda Purba, dia menyebutkan juga ‘Leteng karang ti Karawang’ (apu dari Karawang).
“Leteng karang ti Karawang. Leteng susuh ti Malayu. Pamuat Aki Puhawang. Dipinangan pinang tiwi. Pinang tiwi ngubu cai.”
(Apu karang dari Karawang, apu cangkang kerang dari Melayu, didatangkan oleh nahkoda. Ditambahkan biji pinang tiwi, pinang tiwi yang direbus.)
Potongan baris dalam Kitab Bujangga Manik itu mengisahkan pemberian seorang putri dari kompleks Kerajaan Pajajaran bernama Ajun Larang Sakean Kilat Bancana, dalam upaya meminang dirinya. Di antara pemberian itu, yakni apu dari Karawang.
Jadi Kabupaten Karawang
Dalam perjalanan sejarah, Sultan Agung Mataram yang bermukim di Tanah Mentaok, Jawa Tengah saat ini, pernah menancapkan kekuasaannya di Tatar Pasundan. Ketika itu, cunduklah waktu pada abad ke-17.
Dikutip dari laman resmi Pemkab Karawang, diceritakan pada tahun 1632 Masehi, Sultan Agung Mataram mengutus seorang bangsawan dari Galuh bernama Wiraperbangsa untuk berangkat ke Karawang. Ia memimpin sekitar 1.000 prajurit beserta keluarganya.
Tugas utama yang diberikan kepadanya ada dua, yaitu melepaskan Karawang dari pengaruh Kesultanan Banten dan menyiapkan kebutuhan logistik perang untuk mendukung rencana penyerangan Mataram terhadap VOC Belanda di Batavia (Jakarta).
Misi tersebut sangat penting karena sebelumnya Sultan Agung pernah menugaskan Aria Wirasaba untuk menjalankan tugas serupa. Namun, upaya itu dinilai belum berhasil sepenuhnya. Karena itu, Wiraperbangsa dipercaya untuk melanjutkan dan menyelesaikan tugas tersebut.
Wiraperbangsa berhasil menjalankan amanah Sultan Agung dengan baik. Atas keberhasilannya, ia diangkat menjadi Wedana atau setingkat Bupati Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III. Sebagai penghargaan, Sultan Agung juga menghadiahkan sebuah keris pusaka bernama Karosinjang.
Setelah menerima gelar dan penghargaan di Mataram, Wiraperbangsa berencana kembali ke Karawang.
Namun sebelum berangkat, ia singgah terlebih dahulu ke Galuh untuk menemui keluarganya. Di tempat itulah ia wafat karena kehendak Tuhan.







