KabarSunda.com- Wacana pergantian nama Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi Tatar Sunda menjadi perbincangan masyarakat luas. Sejumlah pihak sepakat, tapi tak sedikit pihak yang menentang pergantian nama provinsi tersebut.
Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, menilai wacana itu akan memicu sentimen kesukuan. Pasalnya, tidak semua wilayah Jabar hari ini memiliki kultur suku Sunda, seperti wilayah Pantura, Depok, dan Bekasi.
“Jabar jadi Sunda akan menimbulkan sentimen kesukuan di Jabar. Cirebon, Pantura, Bekasi, Depok, itu kulturnya bukan Sunda atau sudah bukan Sunda lagi,” kata dia dikutip dari Republika pada Selasa, 7 Juli 2026.
Ia menambahkan, sentimen kesukuan itu dapat membuat dampak yang luas. Salah satunya, beberapa daerah berpotensi memilih lepas dari provinsi tersebut.
“Ujung-ujungnya daerah pada minta lepas dari Jabar,” kata Ali.
Alih-alih sibuk mengurusi pergantian nama, ia menyarankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar mengatasi masalah kemiskinan yang masih nampak dengan membuat lapangan pekerjaan.
Setelah itu, baru urusan pergantian nama bisa ditindaklanjuti.
Pasalnya, mengubah nama provinsi akan membuat jutaan nomenklatur berubah, mulai dari kop surat hingga plang jalan. Perubahan itu pastinya memerlukan dana yang tidak sedikit.
“Nanti kalau sudah sejahtera, silakan yang kayak beginian diubah,” kata Ali.
Sebelumnya, seluruh fraksi di DPRD Provinsi Jabar resmi memberikan lampu hijau untuk melanjutkan usulan pergantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda. Pemberian izin itu akan masuk ke tahapan legislasi berikutnya.









