Budaya  

Nyembah, Tradisi Datangi Pupuhu sebagai Bentuk Penghormatan

KabarSunda.com- Nyembah bagi masyarakat Wanasigra Ciamis  adalah tradisi mendatangi pupuhu atau pemimpin daerah menjelang pelaksanaan Tradisi Merlawu di Situs Kabuyutan Gandoang.

Nyembah bukan sekadar kunjungan formal. Di dalamnya terkandung nilai silaturahmi, penghormatan kepada pemimpin, sekaligus penyampaian maksud dan undangan resmi untuk mengikuti tradisi budaya yang akan digelar.

Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi, menjelaskan Nyembah merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian Tradisi Merlawu yang  berlangsung pada Jumat, 28 Agustus 2026.

“Jadi menjelang Tradisi Merlawu Desa Wanasigra diawali dengan Nyembah, mendatangi pupuhu atau pemimpin, dalam hal ini Bupati Ciamis. Selain silaturahmi, kita juga menyampaikan laporan kegiatan dan perencanaan Tradisi Merlawu,” ujar Yudi, beberapa waktu lalu.

Tradisi Merlawu sendiri digelar masyarakat Wanasigra setiap bulan Rabiul Awal.

Tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas limpahan hasil bumi yang melimpah.

Di lokasi situs, warga berkumpul untuk berdoa bersama dan melaksanakan tawasul.

Suasananya bukan sekadar perayaan, melainkan menjadi ruang refleksi untuk mengingat kembali perjalanan para leluhur.

Salah satu sosok yang sangat dihormati dalam tradisi tersebut adalah Syekh Padamatan.

Ia dikenang sebagai leluhur yang memiliki jasa besar dalam membangun fondasi Desa Wanasigra.