KabarSunda.com- Tiga puluh tiga puisi yang termuat dalam antologi Selingkuh meneliti berbagai problem sosial dengan cara pandang yang menggelitik.
Sekilas, potret kehidupan di Tanah Air tampak konyol. Bagaikan pertunjukan teater degulan yang dikemas dengan diksi membanyol dan urakan.
Namun, di balik topeng jenaka itu, Slamet Widodo justru menangkap denyut batin religius sang penyair.
Istilah “urakan” Slamet Widodo meminjam dari WS Rendra, yang dahulu menyematkannya pada komunitas seni miliknya.
Secara koinsidensi, terdapat benang merah yang kuat antara A. Slamet Widodo dan Rendra.
Kedekatan Spiritual: Slamet Widodo merupakan pengagum Rendra yang kerap berdialog langsung, menjadikan sang penyair burung merak itu sebagai guru spiritualnya.
Gaya Glenyengan: Keduanya gemar berterus terang dengan gaya glenyengan—sebuah istilah dari tradisi Jawa yang diulas oleh Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku ini—yakni berbicara seenaknya dengan maksud bercanda namun menyentuh substansi.
Kultural Solo: Sama-sama lahir dan besar di Solo, membentuk lanskap kebudayaan dan idiom estetika yang seirama.
Estetika Terang-Benderang: Menulis puisi dengan gaya lugas, transparan, atau kerap disebut puisi pamflet.
Lintasan Keimanan: Keduanya pernah bersentuhan atau menganut ajaran Katolik dalam fase pencarian spiritual mereka.
Pertanyaannya, mampukah diksi yang urakan menyampaikan batin yang religius? Bukankah keurakan justru tampak kontras di mata kaum alim?
Jawabannya: sangat bisa. Akar kata “agama” dan “selamat” menyimpan kunci penjelasannya.
Agama-agama terbesar di dunia berakar pada tradisi monoteisme Abrahamiah (Ibrahim).
Dalam terminologi Islam, ia disebut agama samawi—ajaran yang diturunkan melalui wahyu lewat Malaikat Jibril kepada para nabi dan rasul untuk disampaikan kepada umat manusia.
Hakikat ajaran Abrahamiah adalah keselamatan. Dalam salat, umat Islam senantiasa mendoakan keselamatan bagi Nabi Muhammad beserta keluarganya, sebagaimana dilimpahkan pula kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Tradisi kenabian mulai dari Ibrahim, Musa, Daud, Isa, hingga Muhammad membawa misi yang serupa: keselamatan. Dalam bahasa Jawa, kata selamat diucapkan slamet, dan dalam bahasa Sunda diucapkan salamet.
Maka, melalui namanya saja, penyair Selingkuh ini telah membawa mission sacre religius yang secara inheren mengajak pembaca menuju ranah keselamatan (salam).
Manusia akan selamat apabila ia patuh pada dua hukum: aturan transendental dari Tuhan dan hukum sebab-akibat (sunatullah) yang dititipkan pada alam semesta.
Sebagaimana adagium ekologis, barangsiapa menjaga alam, alam akan menjaganya; barangsiapa merusak alam, ia akan menuai bencana.
Menanam biji tomat pasti akan memanen tomat, bukan anggur.
Untuk menaiki tangga ketaatan ini, manusia mutlak memerlukan nurani yang jernih.
Kerusakan yang dituturkan dalam antologi Selingkuh bermula dari nurani yang keruh, hingga manusia kehilangan kompas moral dan menciptakan konvensi serta konstitusi buatannya sendiri yang akhirnya dilanggar pula.
Puisi-puisi Slamet dalam antologi ini sejatinya adalah risalah religius yang merekam bagaimana manusia telah “berselingkuh” dari aturan Tuhan maupun kesepakatan etisnya sendiri.
Memang, ada perselingkuhan dalam arti harfiah yang vulgar, sebagaimana termaktub pada puisi pembuka berjudul “Selingkuh”.
Namun, perselingkuhan dalam buku ini meluas menjadi metafora moral. Ambil contoh puisi berjudul “Dokter” (halaman 113), yang merekam praktik malapraktik, komersialisasi kesehatan yang mencekik kaum miskin, hingga dokter yang melacurkan profesi demi kepentingan industri farmasi.
Dengan gaya satir yang tajam, Slamet melukiskan tabiat amoral tersebut bagaikan Firaun cilik:
Dokter/ adalah penguasa tunggal/ apapun yang diperintahkan/ harus dijalankan pasien/ dengan menakut-nakuti/ oleh pasien semua diberi/ bila moral tak memadai/ rusaklah tatanan hidup ini.
Ketika moral runtuh dan manusia gemar menyelewengkan amanat, kekacauan sosial pun tak terelakkan.
Postulat ini dipaparkan Slamet melalui perangkat retorika yang kaya: hiperbola, repetisi, parodi, ironi, hingga sarkasme. Dari rakyat jelata hingga pejabat tinggi, semuanya disorot sedang berselingkuh dari nurani.
Dari 33 judul dalam buku ini, puisi “Dokter” justru menjadi representasi paling telak mengenai perselingkuhan martabat manusia yang berujung pada ancaman kematian.
Secara strategis, puisi ini semestinya diletakkan di halaman depan karena suaranya jauh lebih menggema ketimbang puisi “Selingkuh” itu sendiri.
Jika penyusunan tata letak oleh editor didasarkan pada pertimbangan estetika murni, pilihan tersebut tentu sah adanya.
Namun, apabila sebuah antologi dibaca sebagai pembawa mission sacre ilahiah, penyusunan berbasis tematik akan jauh lebih bernas dalam memandu apresiasi pembaca.
Terlebih, catatan pengantar dari Sapardi Djoko Damono, meski piawai membedah gaya glenyengan di permukaan, terasa berhenti di ranah stilistika semata tanpa merambah kedalaman teologis teks.
Padahal, seorang pengantar sepatutnya menjadi kompas yang menuntun pembaca agar tidak tersesat di labirin makna yang diantarkannya.