KabarSunda.com- Seniman asal Bandung, Arief Fazariansyah bersama Ferdy Seniman Angin dan Arul, berhasil mengembangkan angklung robotik, sebuah perangkat yang memungkinkan angklung dimainkan secara otomatis menggunakan sistem mekanikal dan kendali digital.
Arief, yang memiliki latar belakang di bidang alat musik dan teknologi, mencoba mencari cara agar sistem yang selama ini digunakan pada instrumen musik modern dapat diterapkan pada alat musik tradisional.
“Sebetulnya awal ide di tahun 2024 karena kami basic-nya di musical instrument, saya mikir bagaimana caranya sistem yang di gitar itu bisa diaplikasikan di alat musik tradisional,” ujar Arief saat ditemui di tempat workshopnya, di Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu, 9 September 2026).
Dari sejumlah alat musik tradisional, angklung dinilai memiliki logika permainan yang cukup dekat dengan sistem tersebut. Dari situlah gagasan angklung robotik mulai dikembangkan.
Prosesnya tidak berlangsung singkat. Pengembangan terus dilakukan selama dua tahun hingga sistem yang digunakan mencapai tahap final pada 2026.
Sekilas, cara kerja angklung robotik ini terdengar sederhana. Setiap angklung digerakkan oleh dinamo yang terhubung dengan komponen mekanikal berupa sistem penggerak.
Namun, di balik gerakan sederhana itu terdapat proses riset yang cukup panjang.
“Angklung robotik ini dirancang memiliki dua pilihan pengoperasian. Pertama, dimainkan secara manual menggunakan keyboard. Kedua, menggunakan mode robotik atau controller yang memungkinkan perangkat memainkan sebuah aransemen secara otomatis,” ucapnya.
Dalam mode robotik, sebuah lagu dapat dimainkan secara utuh dengan berbagai elemen musik, mulai dari ritme, hingga variasi nada.
Arief menjelaskan, agar hasilnya terdengar seperti aransemen yang diinginkan, sistem robotik tersebut diprogram menggunakan file MIDI.
“Data musik yang dibuat kemudian diterjemahkan menjadi perintah bagi dinamo untuk menggerakkan angklung pada waktu dan intensitas tertentu. Dengan sistem itu, musik yang sudah dibuat dalam MIDI dapat diterjemahkan ke permainan angklung secara presisi,” ucapnya.
Riset mekanikal pun dilakukan untuk menentukan bagaimana angklung harus digerakkan agar mampu menghasilkan karakter bunyi yang lebih beragam.
Gerakan yang terlalu panjang akan menghasilkan karakter bunyi berbeda dengan gerakan pendek.
Inovasi tidak hanya dilakukan pada sistem penggeraknya. Angklung yang digunakan juga dibuat dengan konfigurasi nada yang berbeda dari angklung konvensional.












