Bandung Punya Flyover Warna-warni, Habiskan Biaya Rp 35 Miliar

KabarSunda.com- Masyarakat Bandung memiliki flyover yang unik dengan tampilan mural warna-warni. Infrastruktur tersebut bernama “Flyover Pelangi”.

Dilansir dari laman Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, flyover tersebut dulunya dikenal dengan nama Flyover Antapani.

Pembangunan flyover tersebut bertujuan mengatasi kemacetan yang setiap hari terjadi di persimpangan Jalan Antapani dan Jalan Terusan Jakarta, khususnya pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari serta akhir pekan.

Kawasan ini memang seringkali dipadati oleh kendaraan karena merupakan salah satu akses atau penghubung pusat kota dengan kawasan Bandung lainnya.

Baca juga: Flyover Gelumbang Dibangun, Arus Lalin Palembang-Prabumulih Bakal Lancar

Proyek Kerja Sama Indonesia dan Korea

Pembangunan flyover ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Jalan dan Jembatan Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan Pemkot Bandung dan Posco Steel Korea.

Proyek ini menghabiskan anggaran Rp 35 miliar, dengan komposisi pendanaan meliputi Rp 21,5 miliar dari Kementerian PUPR, Rp 10 miliar dari Pemkot Bandung, dan Rp 2 miliar dari Posco Steel Korea berupa material.

Teknologi yang Digunakan

Flyover ini dibangun dengan teknologi struktur baja bergelombang atau Corrugated Mortar Pusjatan (CMP). Jembatan dengan teknologi ini merupakan yang pertama dibangun di Indonesia.

CMP merupakan teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR.

Teknologi ini merupakan pengembangan teknologi timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang.

Kelebihan CMP adalah masa konstruksi lebih cepat 50 persen jika dibandingkan dengan menggunakan metode konstruksi beton pada umumnya yang memakan waktu 12 bulan. Adapun CMP hanya memerlukan waktu konstruksi sekitar enam bulan.

Kelebihan lainnya adalah bentangan konstruksi jembatan yang panjang, di mana lengkungan jembatan dapat mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir hingga 8 lajur kendaraan di bawah jembatan.

Pelaksanaan konstruksi CMP juga tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan, sehingga memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi.

CMP memiliki nilai estetika, sehingga dapat menjadi suatu landscape dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan.

Konsumsi bahan alam dalam konstruksi CMP juga jauh lebih rendah dibandingkan konstruksi dengan teknologi beton, sehingga lebih ramah lingkungan.

Teknologi mortar busa ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah, atau sub base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya.

Selain mempercepat waktu pelaksanaan, penggunaan baja bergelombang biasanya membuat satu buah jembatan dengan beton bertulang membutuhkan biaya sekitar Rp 120 miliar.

Akan tetapi, untuk pembuatan dengan struktur baja bergelombang dan timbunan ringan mortar busa, hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 35 miliar.

Lama Waktu Pengerjaan

Menariknya, pembangunan flyover sepanjang 340 meter ini hanya memakan waktu tujuh bulan saja. Itu karena pembangunannya menggunakan teknologi CMP.

Peletakan batu pertama pembangunan jalan layang kebanggaan warga Bandung ini dilakukan pada 10 Juni 2016.

Kemudian pada 24 Januari 2017, flyover telah diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Tampilan

Tak hanya mengurangi kemacetan di persimpangan Jalan Terusan Jakarta-Jalan Antapani, tampilan jembatan layang ini juga cantik menawan dengan seni mural keramik warna warni.

Asal tahu saja, seni mural tersebut merupakan karya arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Jhon Martono.

Belakangan, warna-warna itulah yang menginsprasi penamaan “Pelangi” pada nama lain Flyover Antapani ini.