Karawang Tersembunyi: Pelabuhan Kuno yang Kini Jadi Benteng Terumbu Karang

KabarSunda.com- Gemuruh Laut Jawa di Dusun Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang pagi itu masih sama dengan ratusan tahun silam. Desir ombaknya terkadang tenang dan muram.

Bedanya, dulu suara itu bercampur dengan teriakan nahkoda, derit tali layar, dan dentum meriam kapal kompeni yang berlabuh.

Ombak tidak hanya menjadi batas alam melainkan latar panggung perdagangan dunia.

Pada abad ke-17, setiap gempuran gelombang seakan mengabarkan datangnya kapal-kapal besar dari Batavia.

Bawaannya beragam seperti kain, keramik, rempah, obat-obatan hingga berita dari seberang lautan.

Pedagang Tionghoa, Arab menunggu di tepi dermaga, sementara juragan lokal menyiapkan beras atau emas putih Karawang yang menopang perut Batavia.

Kehidupan di Tangkolak kala itu tak pernah tidur.

Malam hari, obor dan pelita tempurung kelapa yang dibawa pedagang terus menyala di sepanjang tepian. Sementara kentongan ronda juga bersautan.

Tak jarang anak-anak sibuk membantu orang tuanya menyiapkan dagangan, sebagian lagi anak-anak bermain melompati antar perahu.

Tangkolak menjadi semacam titik temu antara lokal dan mancanegara, antara kampung nelayan dengan jalur dagang dunia.

Berbagai bahasa bercampur Sunda, Jawa, Melayu, Hokkian, Arab dan Belanda yang menjadi bahasa perdagangan.

Mereka saling menawar barang-barang dagang yang berlabuh di Pelabuhan Tangkolak.

Peneliti sejarah Karawang sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dharma Gaotama menjelaskan, betapa pentingnya Pelabuhan Tangkolak pada masa itu bersamaan dengan Pelabuhan Cilamaya untuk perdagangan di Kabupaten Karawang.

Dharma menyebutkan, dalam buku yang ditulis H.J. de Graaf berjudul Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung (2002).

Saat itu Kepala Perdagangan Kompeni Belanda, Jan Coen, pernah berjaga di sekitar Karawang dengan kapal Het Wapen van Delft.

Pantai utara Karawang pada masa lalu menjadi daerah patroli dan pengintaian dua kekuatan besar yang saling mengawasi.

Dalam buku itu, kata Dharma dijelaskan, kondisi itu membuat kawasan Pelabuhan Tangkolak tersebut ramai aktivitas, termasuk perdagangan.

Kemungkinan besar menurut Dharma aktivitas di pelabuhan bisa sampai 24 jam tidak berhenti.

“Lalu lintas perdagangan antara pelabuhan Mataram dan Batavia semakin meningkat. Baik orang Mataram maupun penduduk Batavia mendapat keuntungan,” kata Dharma saat dihubungi, Sabtu, 13 September 2025.

Pantai Tangkolak memiliki ciri khas landai dan dangkal.

Bukti kejayaan masa lalu itu dibuktikan melalui temuan arkeologi yang ditemukan di wilayah tersebut, sebagian besar berasal dari bawah laut.

“Salah satu artefak yang ditemukan adalah potongan kayu. Hasil analisis pertanggalan oleh Pusat Survei Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Bandung, menunjukkan potongan kayu itu berasal dari abad ke-13,” kata Dharma.

Dia menyebutkan, Tangkolak merupakan pelabuhan dengan jenis muara sungai.

Dari beberapa sumber, Dharma mengatakan, perahu-perahu besar akan menunggu di tengah laut yang kemudian barang dagangan tersebut akan dijemput atau diantar menggunakan perahu yang lebih kecil dari muara.

Kemudian juga, kata Dharma, ditemukan pula tinggalan arkeologi lain seperti bagian lampu kapal dari abad ke-19.

Berdasarkan ciri-ciri pantai yang landai, tidak curam, ombak tidak tinggi, serta adanya temuan artefak, Dharma menafsirkan pantai-pantai di kawasan utara Karawang dulu merupakan jalur pelayaran dan tempat kapal berlabuh.

Fungsi pelabuhan itu tidak hanya sebagai tempat persinggahan, tetapi juga menjadi jalur transportasi laut dan sungai.

“Pelabuhan-pelabuhan kuno Karawang dipandang sebagai pintu masuk dari luar wilayah. Keberadaannya menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya wilayah Karawang,” kata Dharma.

Sementara itu di pagi yang sama di Tahun 2025, air laut yang tenang di muara, berpadu dengan pantai landai dan dangkal, membuat kawasan ini tak memungkinkan bagi kapal besar untuk bersandar.

Hanya perahu kayu nelayan dengan bobot sekitar 3 Gross Ton (GT) yang setiap hari keluar masuk, membawa hasil tangkapan dari laut Jawa.

Untuk keluar-masuk muara saja terkadang sulit, pada jam-jam surut nelayan harus mendorong perahunya.

Saat ini, Dermaga Tangkolak lebih mirip halaman belakang kampung nelayan ketimbang pelabuhan.

Perahu-perahu kecil berjajar rapi, sebagian ditambatkan dengan tali tambang ke tiang kayu yang ditancapkan di lumpur muara.

Beberapa nelayan tampak membetulkan jaring, sebagian nelayan terlihat memilah rajungan hasil tangkapan malam hari.

Hasil tangkapan laut langsung dijual ke tengkulak, pasalnya bangunan biru yang menjadi tempat pelelangan ikan (TPI) sudah lama tidak berfungsi dalam beberapa tahun terakhir.

Sisa kejayaan Tangkolak kini hanya tinggal terumbu karang yang disebut kawasan Karang

Sendulang dan benda muatan kapal karam jaman Perusahaan Hindia Timur Belanda atau yang lebih dikenal dengan sebutan Vereenigde Oostindiche Compagnie (VOC) yang tersembunyi di dalam laut.

Dusun Tangkolak terletak di Desa Sukakerta.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2024 Sukakerta memiliki seluas 7,32 km⊃2; dihuni 6.586 jiwa.

Letaknya 46 kilometer dari pusat Kabupaten Karawang.

Dari profil pemerintahan desa setempat, 40 persen penduduknya adalah nelayan yang berlokasi di Dusun Tangkolak.

Penghasilan warganya di desa tersebut mencapai Rp3.000.000 perkapita dan rata-rata pendidikan penduduknya hanya lulusan SMP.

Masyarakat menggunakan bahasa Sunda dan Jawa.

Kepala Dusun Tangkolak, Jaelani (49), mengenal laut sejak masa kanak-kanak.

Sejak lulus SD ia sudah ikut melaut, berangkat malam hingga pagi hari, mencari ikan dan rajungan.

Kini, ia memiliki satu perahu sebuah capaian yang bagi masyarakat Tangkolak berarti naik satu tingkat dari sekadar nelayan harian menuju juragan kapal.

Mayoritas warga Tangkolak memang hidup sebagai nelayan.

Dengan alat tangkap sederhana jaring, jebakan, bubu, hingga menyelam mereka bertarung dengan nasib di lautan. Sekali melaut, modal yang dibutuhkan bisa mencapai Rp500 ribu.

Hasilnya, jika beruntung, antara Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Uang itu kemudian dibagi tujuh: untuk solar, biaya perahu, alat tangkap, dan sisanya untuk empat orang nelayan yang ikut.

“Cita-cita kami memang jadi nelayan, paling besar jadi juragan kapal,” kata Jaelani di Muara Tangkolak, Senin (8/9/2025).

Jaelani masih ingat betul masa 1990-an hingga awal 2000-an.

Saat itu, banyak warga yang mengambil terumbu karang di kawasan Karang Sendulang.

Sebagian bahkan berburu muatan kapal karam yang tenggelam ratusan tahun lalu mulai dari pecahan keramik hingga koin kuno.

“Dulu banyak yang ambil karang atau cari barang kapal karam. Tapi lama-lama kami sadar, itu justru merusak laut sendiri,” kata dia.

Kesadaran itu muncul sejak awal 2000-an.

Hasil tangkapan ikan semakin berkurang, ditambah adanya sosialisasi pelarangan dari pemerintah.

Warga akhirnya berhenti menjarah karang dan beralih menjaga kelestariannya.

Kini, Karang Sendulang bukan lagi tempat eksploitasi serakah, melainkan aset alam yang dijaga bersama.

Ade Komarudin pada tahun 2006 baru saja diangkat menjadi ASN Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Karawang yang saat ini menjadi Dinas Perikanan.

Dia bertugas sebagai staf seksi konservasi.

Awalnya dia tak menyangka jika pesisir utara Karawang memiliki potensi tersembunyi.

Oleh warga Tangkolak, Ade mendapatkan informasi kawasan terumbu karang dari para pemuda setempat yang menjadi cikal bakal komunitas penjaga terumbu Karang Sendulang.

Dama Saputra bersama kawan-kawannya bersemangat menceritakan tentang terumbu karang kepada Ade.

Ade yang tertarik, langsung meminta Dama dan kawan-kawan mengantarnya.

Dengan sigap Dama menuju perahu milik ayahnya. Di buritan, mesin diesel tua menjadi perhatian Ade.

Dama menunduk, memutar engkol sambil sesekali menarik nafas panjang.

Suara batuk mesin sempat terdengar beberapa kali. “Dug..dug..dug..dug,” mirip gendang dipukul sebelum akhirnya deru khas diesel pecah, menggetarkan lambung perahu.

Dengan perahu sederhana tersebut, mereka berlayar menuju Karang Sendulang.

Sepanjang perjalanan laut menuju kawasan terumbu karang, Ade mendengarkan cerita mereka.

Sebagian warga sempat mengeksploitasi karang untuk dijual, bahkan ikut berburu harta karun dari kapal karam yang terpendam di dasar laut.

Mendengar kisah itu, Ade menceritakan pandangannya.

Ia meminta agar para pemuda memahami bahwa terumbu karang lebih berharga jika tetap berada di laut, menjaga ikan tetap berkembang biak, dan menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Ade juga mengingatkan supaya mereka menjadi penjaga wilayah tersebut.

Dia pun meminta Dama dan kawan-kawan untuk tidak pernah menceritakan lokasi atau membuka peluang perburuan harta karun.

Sekitar 45 menit berlalu, perjalanan dari perahu kecil yang ditumpangi Dama dan kawan-kawan akhirnya tiba di kawasan Karang Sendulang. Jangkar perahu mulai diturunkan ke dalam laut yang terlihat jernih.

Tak jauh dari lokasi perahu berhenti, Ade melihat karang gosong atau tumpukan terumbu karang datar yang naik kepermukaan dan menjadi pulau karena surutnya air laut.

Tak menunggu lama, Dama bersama beberapa rekannya langsung terjun ke laut, yang kemudian disusul Ade.

Dari balik kejernihan air, tampak pemandangan yang menakjubkan.

Hamparan terumbu karang terbentang luas, berlapis-lapis dan berwarna-warni, menjadi rumah bagi ikan-ikan seperti ikan badut, ikan sirip kuning, belut laut hingga lumba-lumba yang berenang bebas di sekitarnya.

“Memang benar, karangnya masih banyak. Indah sekali, bahkan menurut saya lebih baik dari Pulau Seribu,” ujar Ade di Kantor Dinas Perikanan Karawang, Jumat, 12 September 2025.

Ade lalu perlahan berenang ke arah karang gosong yang menjulang di tengah laut.

Matanya melihat ke arah laut biru yang seakan tak berujung.

Sejenak, Ade membayangkan dirinya berada dalam sebuah film berjudul The Blue Lagoon.

Seolah dia menjadi manusia yang terdampar di sebuah pulau di tengah samudra, dikelilingi keindahan tak ternilai.

Terumbu karang berwarna-warni menjelma seperti taman bawah laut, sementara ikan-ikan kecil berkilau bagai perhiasan yang berenang bebas di sekitarnya.

Keberadaanya dalam dunia khayalan kemudian tersadar, Ade harus kembali ke dunia nyata.

Dia bertekad harus menyelamatkan Karang Sendulang, muncul pula dibenaknya membentuk komunitas penyelemat terumbu karang di Tangkolak.

Keindahan Karang Sendulang menjadi bukti bahwa kawasan ini bukan hanya menyimpan cerita masa lalu tentang eksploitasi dan perburuan harta karun, melainkan juga harapan baru bagi kelestarian dan mengembalikan kejayaan Tangkolak.

Setelah menikmati keindahan Karang Sendulang, Ade tampak semakin mantap dengan tekadnya.

Dia segera menghubungi beberapa rekan seperti komunitas selam.

Menceritakan di Karawang memiliki potensi terumbu karang sangat indah. Ia mengajak mereka melihat dan melakukan penelitian.

Bagi Ade, keanekaragaman terumbu karang di kawasan ini layak didokumentasikan sekaligus dijaga bersama.

Tidak hanya itu, ia juga menaruh perhatian pada generasi muda nelayan.

Dama, yang sejak awal antusias menyelam, menjadi sosok yang ingin ia dampingi.

Ade bertekad terus memberikan pembinaan, menumbuhkan kecintaan Dama terhadap terumbu karang. Ade mengenalkan teknik dasar konservasi.

Salah satunya dengan belajar transplantasi karang secara sederhana.

Ade yang saat itu pun mengajukan alat selam otonom kepada pemerintah untuk diberikan kepada Dama dan kawan-kawan yang sudah terbentuk menjadi komunitas penyelamat terumbu karang.

Selama melakukan eksplorasi, ketika itu kurang lebih Ade sering menemukan karang gosong yang jumlahnya sekitar belasan titik dan luasan karang yang didatanya mencapai 50 ribu hektar.

Dalam jurnal ilmiah yang ditulis Rafdi Fadhli & Tjiong Giok Pin, Departemen Geografi, FMIPA Universitas Indonesia yang berjudul Persebaran Terumbu Karang di Wilayah Perairan Karawang yang terdeteksi citra Landsat 8 OLI terdapat 12 gugus karang diantaranya gugus karang Amben, Cibendo, Karang Areng, Karang Gerabad, Karang Pulo Gede, Karang Pulo Pasir, Karang Temiang, Malang, Pulo Gede Ciparage, Sendulang dan Tunggak.

Namun diakui, dalam penelitian terdapat gugus karang yang tidak terlihat oleh citra karena luasanya terlalu kecil.

Namun bertahun-tahun berselang tepatnya pada Tahun 2019, Pemerintah Karawang dan Kementerian Kelautan menyatakan laut di Cilamaya menjadi daerah Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Ade mengaku tidak setuju, pasalnya hal itu dinilai akan meningkatkan perburuan harta karun.

Dia tetap meyakinkan Dama untuk tidak perlu terlibat dan tetap fokus pada penyelamatan terumbu karang.

Dama kini menjadi Ketua Kelompok Pandu Alam Sendulang.

Bersama komunitas tersebut dia terus melakukan pelestarian terumbu karang.

Saat ini, komunitas tersebut berjuang bersama Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) mereka mengembangkan sistem transplantasi terumbu karang dalam program Orang Tua Asuh Karang Laut Utara Jakarta dan Jawa Barat (Otak Jawara).

Mereka membangun modul transplantasi terumbu karang dengan konsep paranje atau kandang ayam.

Bentuknya sederhana, dia membuat kerangka dari besi yang dibalut terpal hingga menyerupai kubah.

Setelah itu mereka melapisi semen pada seluruh bagian terpal dan mengecor pada bagian bawah.

Sementara itu bagian atas dibuatkan dibuatkan lubang sebagai tempat fragmen karang yang ditransplantasi.

Kemudian, bahan tersebut dikeringkan selama tiga hari hingga menjadi beton paranje.

Dari data PHE OWNJ, pihaknya telah menurunkan 420 paranje sebagai wadah tranplantasi terumbu karang di Karang Sendulang.

Dengan total tranplantasi fragmentasi karang mencapai 3.479 fragmen.

Sedangkan total luasan tranplantasi mencapai 0,22 hektar selama kurun waktu dari Tahun 2022 hingga Tahun 2025.

Ahmad Salman Alfarisi sebagai Associate Monitoring Pemulihan Environmental di PHE ONWJ mengatakan, terdapat enam jenis terumbu karang yang ditransplantasi dalam paranje diantaranya adalah Acropora Brancing, Acropora Tabulate, Acropora Submassive, Coral Brancing, Coral Massive dan Coral Encusting.

Sebelum terbentuknya modul paranje, Salman mengakui peneliti dari IPB dan masyarakat setempat melakukan berbagai percobaan.

Berbagai bentuk modul dan bahannya dicoba. Tidak mudah, beberapa kali gagal, karena banyak modul yang terhempas arus bawah laut.

Kemudian setelah bentuk paranje dinilai cocok, pihaknya pun melakukan percobaan pada transplantasi karang.

Hal serupa pun gagal, banyak fragmen yang tidak tumbuh.

Sehingga, berbagai pendataan fragmen terumbu karang mana saja yang bisa tumbuh dilakukan.

Setelah mempatenkan modul transplantasi dan mengaplikasikannya, pihaknya pub melakukan berbagai pendataan habitat.

Salman menjelaskan beberapa jenis ikan pada terumbu karang tersebut diantaranya adalah ikan betok karang, ikan ekor kuning, kerapu macan kecil, kerapu karang, ikan ekor sapi, ikan betok karang hitam, ikan ekor api, ikan bulan, ikan badut dan ikan baronang.

Dia menerangkan, program ini merupakan upaya PHE ONWJ dalam melestarikan terumbu karang melalui kolaborasi dengan pelopor lokal sperti Dama dan kawan-kawan yang berkolaborasi dengan para ahli kelautan.

Menurutnya, pelibatan masyarakat pesisir menjadi kunci utama agar program tidak sekadar seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran kolektif.

“Kami berharap dari kolaborasi ini lahir kemandirian. Masyarakat pesisir, terutama para nelayan muda, bisa terus menjaga dan merawat terumbu karang tanpa harus selalu menunggu dorongan dari pihak luar,” kata Salman saat dihubungi, Minggu, 14 September 2025.

Ia menegaskan, keberhasilan pelestarian ekosistem laut tidak hanya diukur dari banyaknya terumbu karang yang ditransplantasi, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian masyarakat untuk menjaganya secara berkelanjutan.

Sementara itu, Dama Saputra (35) menyampaikan harapannya agar kelestarian Karang Sendulang dapat menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.

Meskipun wisatawan yang berkunjung hanya seminggu sekali, akibat infrastruktrur wisata bahari belum terbangun.

Beberapa wisatawan datang untuk menyelam permukaan atau hanya memancing dengan menyewa satu perahu Rp600.000 untuk enam atau tujuh orang .

Bagi orang-orang dia tetap pemuda biasa.

Tetapi bagi lautan Dama bagaikan Poseidon, penjaga isi lautan yang tidak mengenal lelah. Trisulanya adalah keteguhan yang menghempas untuk menberikan kehidupan bagi isi lautan dan masyarakat bumi. Dama memang dikenal sebagai tidak pernah mau menyerah.

Menurutnya, nelayan Tangkolak sudah memiliki modal penting.

Mereka adalah penyelam yang handal.

Daerahnya memiliki sejarah yang cukup lama dan menjadi bagian penting di nusantara.

Kemudian Dama menganggap, keahlian warga selain mencari ikan juga bertambah dengan tranplantasi terumbu karang yang didapatnya dari para ahli dan terpenting adalah kekompakan warga untuk memajukan Tangkolak juga terus membara.

“Kalau karang lestari, laut sehat, masyarakat pun ikut sejahtera,”kata Dama di Tangkolak, Kamis, 8 September 2025.

Di sisi lain Bupati Karawang Aep Syaepuloh menjelaskan, pemerintah memang tengah melakukan perencanaan dalam peningkatan pengembangan ekonomi melalui wisata.

Selama dia menjabat nanti, wisata adalah salah satu bagian kebijakannya yang prioritas.

Dia pun sudah mendapatkan informasi tentang potensi wisata di Karang Sendulang.

Aep mengaku akan melakukan pembahasan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), bagaimana peningkatan wisata di daerah tersebut.

“Saya sudah mendapatkan informasinya, wisata memang menjadi program kita dan pembahasan akan dilakukan dengan Bapeda,” ujar Aep di Kantor Bupati, Jumat, 12 September 2025.