KabarSunda.com- Ketua Program Studi Sarjana Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) Aris Aryanto mengatakan kegagalan struktur menyebabkan bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, roboh menyeluruh atau total collapse.
Dugaan itu berdasarkan gambar dan foto-foto di media massa dan media sosial.
Menurut dosen di Kelompok Keahlian Rekayasa Struktur Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB itu, pola kegagalan struktur itu lazim disebut pancake atau sandwich pada lantai yang bertumpuk.
Kejadian seperti itu biasanya terjadi akibat progressive collapse atau keruntuhan secara progresif yang berlangsung secara beruntun. “Gagalnya struktur menimpa bagian lain secara progresif atau terus menerus,” ujarnya dikutip dari Tempo, Sabtu, 4 Oktober 2025.
Mengutip dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bangunan pesantren roboh pada Senin, 29 September 2025 sekitar pukul 15.00 WIB.
Saat itu sejak pagi hari tengah dilakukan pengecoran lantai empat. Ketika pelaksanaan salat Asar berjamaah, tiang diduga tidak mampu menahan beban pengecoran, sehingga bangunan runtuh hingga ke lantai dasar.
Aris mengatakan ketika perancah atau penopang bagian yang sedang dibangun tidak kuat, lantai akan roboh dan menimpa lantai di bawahnya.
Bangunan bagian atas yang roboh menambah bobot beban lantai di bawahnya. “Mungkin juga struktur bawahnya, penopang-penopang vertikal seperti kolom, kurang baik,” katanya.
Jika bangunan ingin dibuat bertambah ke atas alias bertumbuh, seharusnya sedari awal sudah direncanakan agar tiang serta pondasinya kuat.
Biasanya, menurut Aris, kegagalan struktur bangunan ditandai oleh beberapa masalah, seperti adanya retakan, lendutan, atau deformasi yang cukup besar.
Namun, pada kasus keruntuhan yang progresif, tanda-tandanya sulit dideteksi. “Ketika struktur sudah roboh seperti itu, kestabilannya kita tidak tahu. Ketika satu diangkat, bagian lain menjadi tidak stabil dan bisa runtuh,” ujarnya.
Dari keterangan BNPB hingga Jumat, 3 Oktober 2025 pukul 23.05 WIB, data terbaru korban akibat ambruknya gedung Pondok Pesantren Al-Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur terus berkembang.
Total korban tercatat sebanyak 167 orang. Dari jumlah tersebut, 118 orang telah ditemukan, yaitu 103 orang dalam kondisi selamat dan 14 orang meninggal dulia. Seorang korban telah pulang ke rumah tanpa memerlukan penanganan medis lanjutan.
Dari korban selamat, sebanyak 14 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, 89 orang telah diperbolehkan pulang dan satu orang dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto.
Sementara itu, sebanyak 49 orang lainnya berdasarkan daftar absensi yang dirilis pihak pondok pesantren, masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
Selain itu, tercatat tambahan delapan jenazah yang berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Proses pencarian dan evakuasi masih terus dilanjutkan dengan dukungan penuh dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, PMI, Tagana, Pemadam Kebakaran dan unsur relawan lainnya.











