KabarSunda.com- Gubernur Jawa Barat sekaligus budayawan Dedi Mulyadi menilai langkah Presiden Prabowo Subianto yang berhasil melobi Pemerintah Belanda untuk mengembalikan 30.000 artefak warisan Indonesia sebagai bentuk diplomasi budaya yang luar biasa.
Dalam obrolan santai bersama ketua RT dalam kasus perselisihan Sahara dan Yai Mim, Dedi Mulyadi sempat menyinggung kabar pengembalian artefak itu dengan nada humor tetapi penuh apresiasi.
“Tapi Pak RT-nya punya usaha di Belanda? Bukan. Oh dikira Pak RT-nya lagi mendampingi Presiden ke Belanda, pulangnya bawa artefak 30.000,” ujar Dedi dikutip dari Kompas.com, Selasa, 8 Oktober 2025.
Dedi menyebut, langkah Presiden Prabowo membuka jalan diplomasi budaya yang penting bagi bangsa Indonesia.
Ia menilai keberhasilan mengembalikan ribuan artefak itu bukan hanya simbol kehormatan sejarah, tetapi juga bentuk pengakuan dunia terhadap peradaban Nusantara.
“Itu diplomasi yang luar biasa,” kata Dedi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Belanda sepakat mengembalikan 30.000 artefak, fosil, dan dokumen budaya milik Indonesia yang selama ini tersimpan di Negeri Kincir Angin.
“Di Belanda saya diterima dengan sangat baik oleh Raja, dan Belanda mengembalikan 30.000 item artefak yang mereka bawa dari Indonesia dikembalikan ke kita, ujar Prabowo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.
Presiden menilai, kesepakatan ini menunjukkan iktikad baik Belanda untuk memelihara hubungan bilateral yang semakin erat.
Selain itu, Ratu Máxima juga dijadwalkan akan berkunjung ke Indonesia pada 25 November 2025 untuk berdiskusi soal peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan menindaklanjuti proses pemulangan artefak tersebut di Belanda, termasuk mengunjungi Museum Leiden sebagai lokasi penyimpanan sebagian koleksi.
“Prosesnya akan berlangsung cepat karena Raja Belanda sudah menyepakati. Ini diplomasi budaya yang berhasil membuka lembaran baru hubungan dua negara,” tutur Teddy.
Dedi Mulyadi menilai, pengembalian artefak ini sejalan dengan semangat pelestarian budaya yang ia perjuangkan di Jawa Barat.
Ia berharap artefak-artefak tersebut nantinya bisa menjadi sumber edukasi dan inspirasi generasi muda Indonesia.











