KabarSunda.com- Meteor jatuh di Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu (5 Oktober 2025) menjadi pengingat bahwa bumi tidak sepenuhnya aman dari ancaman luar angkasa.
Apalagi, jatuhnya meteor hingga mencapai permukaan Bumi tidak bisa diprediksi. Sehingga ancaman luar angkasa bisa terjadi kapan saja.
Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof Husin Alatas berpendapat bahwa ruang angkasa bukanlah tempat yang tenang seperti bayangan kebanyakan orang.
“Ruang angkasa dipenuhi objek yang bergerak dalam kecepatan tinggi. Ketika salah satu di antaranya keluar dari orbit stabilnya dan kemudian tertarik oleh gravitasi Bumi, maka potensi tumbukan menjadi nyata,” terang Prof Husin dikutip dari Kompas.com, Kamis, 16 Oktober 2025.
Lebih lanjut, Husin menjelaskan bahwa meteor yang jatuh di Cirebon kemungkinan berasal dari sabuk asteroid di antara orbit Mars dan Jupiter.
Objek dari asteroid tersebut terlepas kemudian masuk ke atmosfer Bumi akibat gaya gravitasi.
Namun, Husin menjabarkan bahwa meteor bukanlah satu-satunya ancaman yang datang dari luar angkasa.
Lantas, apa saja ancaman luar angkasa yang dapat memegaruhi kehidupan Bumi dan apa yang paling dekat?
4 ancaman dari luar angkasa
Berdasarkan penjelasan Husin, ada empat ancaman luar angkasa yang perlu diwaspadai umat manusia.
1. Tumbukan asteroid dan komet
Asteroid yang keluar dari orbit stabil dapat menabrak Bumi dan menimbulkan kerusakan besar.
Sejarah mencatat peristiwa tumbukan asteroid di Semenanjung Yucatan, Meksiko, 66 juta tahun lalu. Peristiwa ini telah memicu bencana besar hingga berujung pada kepunahan dinosaurus.
Kini, lembaga antariksa dunia berupaya mengembangkan sistem pertahanan planet. Salah satunya adalah misi DART (Double Asteroid Redirection Test) milik NASA yang berhasil mengubah orbit asteroid pada 2022.
“Misi Double Asteroid Redirection Test (DART) yang berhasil mengubah orbit asteroid pada 2022 menjadi tonggak utama dalam upaya perlindungan Bumi,” ungkap Husin.
2. Badai Matahari
Letupan besar di permukaan Matahari dapat mengirimkan partikel bermuatan tinggi yang berpotensi melumpuhkan jaringan listrik dan sistem komunikasi di Bumi.
Meskipun medan magnet Bumi melindungi dari badai Matahari, kekuatannya terbatas.
“Medan magnet Bumi memang melindungi kita, tapi kekuatannya terbatas. Angin Matahari ekstrem bisa menembus dan memicu kerusakan sistem teknologi modern,” ujar Prof Husin.
Salah satu contoh dampaknya adalah peristiwa di Quebec, Kanada, tahun 1989. Badai Matahari ekstrem kala itu menyebabkan pemadaman listrik massal selama berjam-jam.
3. Radiasi kosmik dari ledakan bintang
Radiasi kosmik berenergi tinggi bisa datang dari peristiwa supernova di galaksi lain. Salah satu bintang yang sedang diawasi para astronom adalah Betelgeuse di konstelasi Orion.
Sebagai informasi, bintang ini telah menunjukkan tanda-tanda akan mengalami ledakan supernova.
“Meskipun jaraknya jauh, partikel berenergi sangat tinggi yang dihasilkannya tetap berpotensi membahayakan astronot dan satelit di luar orbit rendah,” terangnya.
Gelombang yang disebabkan ledakan supernova dari bintang dapat memengaruhi satelit dan para astronot di luar orbit rendah Bumi.
4. Sampah antariksa di orbit Bumi
Jumlah puing logam dan serpihan satelit di orbit Bumi terus meningkat setiap tahun.
Saat ini, Bumi terus mengirim satelit buatan untuk menunjang teknologi komunikasi. Namun, satelit ada masanya sebelum akhirnya tidak lagi berfungsi.
Satelit-satelit non-aktif ini ada yang menunggu diturunkan atau berada di “orbit kuburan”. PBB mencatat ada 14.900 satelit non-aktif yang mengorbit Bumi.
Jika menabrak wahana aktif, serpihan ini bisa merusak sistem navigasi atau menimbulkan efek berantai yang berbahaya.
Ancaman terdekat bagi Bumi
Menurut Husin, ancaman yang paling mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah tumbukan asteroid berukuran sedang. Hal ini disebabkan sulitnya deteksi dini terhadap asteroid yang mendekat.
Meskipun tidak sebesar penyebab kepunahan dinosaurus, dampaknya bisa menghancurkan wilayah seluas kota besar.
“Ancaman yang paling mungkin dalam waktu dekat adalah tumbukan asteroid berukuran sedang, badai Matahari ekstrem, serta paparan radiasi kosmik,” ungkapnya.
Pengampu mata kuliah teori relativitas itu menjelaskan, peningkatan teknologi pemantauan dan kolaborasi antarnegara sangat penting untuk mendeteksi ancaman lebih dini.
Ia optimis bahwa kerja sama antarnegara dapat meningkatkan kesiapan menghadapi bahaya dari luar angkasa.
“Perlindungan Bumi bukan hanya dilakukan dari dalam, tetapi juga dari luar. Menjaga rumah kita berarti memahami dan mengantisipasi ancaman dari semesta,” tutup Husin.











