KabarSunda.com- Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyampaikan Indonesia mengalami surplus pengajar alias guru.
Berdasarkan data 2026 oleh Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), hingga saat ini bidang pendidikan masih menjadi bidang ilmu favorit dibandingkan rumpun ilmu lain, dengan total 2,25 juta mahasiswa ilmu pendidikan.
Sementara, jumlah guru di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) pada 2026 berjumlah 3.306.345 orang, dengan jumlah guru yang akan pensiun sebanyak 61.937 orang.
Lulusan bidang pendidikan di bawah Kemdiktisaintek pada 2025 berjumlah 186.895 orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat surplus SDM dalam konteks guru di Indonesia.
Berkaca pada hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan perlunya inovasi bagi penyelenggara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk terus mengembangkan kualitas talenta unggul bagi bangsa Indonesia.
“Manajemen pendidikan tinggi harus terus melakukan pembaruan. Untuk perguruan tinggi bisa berdaya saing dan bertahan hidup, kita harus memahami apa yang dibutuhkan masyarakat,” tegas Wamen Fauzan, Rabu, 29 April 2026.
Hal ini sejalan dengan studi yang pernah digelar oleh Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) terkait apa yang dibutuhkan generasi Z (gen Z) dalam perguruan tinggi, antara lain keahlian spesifik yang dapat diaplikasikan secara fleksibel, kepastian kerja setelah lulus, dan berjejaring dalam industri terkait.
Melihat data tersebut, Wamen Fauzan menekankan kembali bahwa perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya bergantung pada pendekatan konvensional.
“Harus dipastikan ada desain-desain baru dalam tata kelola perguruan tinggi bidang kependidikan ini untuk menghadapi ketidaksesuaian antara demand dan supply dalam profesi keguruan,” jelas Wamen Fauzan.
Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (ALPTKSI), Sofyan Anif menyampaikan LPTK memiliki peran strategis dalam menjaga mutu pendidikan nasional, sehingga penguatan kualitas dan arah kebijakan menjadi krusial.
Sofyan menambahkan, forum ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi LPTK swasta untuk merumuskan rekomendasi kebijakan, termasuk dalam penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan kontribusi terhadap revisi kebijakan pendidikan nasional.
Penguatan LPTK ini sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya transformasi pendidikan tinggi agar lebih berdampak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, pendidikan tinggi diarahkan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi nyata bagi persoalan bangsa.
Melalui penguatan inovasi, relevansi kurikulum, serta peningkatan kualitas LPTK, Kemdiktisaintek berkomitmen mendorong perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berubah.
Rakornas FPPTKSI ini diharapkan bisa menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat sistem pendidikan tenaga kependidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berdampak bagi kemajuan bangsa.











