KabarSunda.com- Pihak sekolah swasta yang berdiri sejak 1962 di Kota Cirebon seperti SD dan SMP Budaya di bawah naungan Yayasan Pendidikan Budaya meminta kepada pemerintah maupun pihak-pihak terkait agar lebih memperhatikan sekolah-sekolah swasta kecil yang saat ini dinilai semakin terpuruk.
Belum lama ini, salah satu sekolah swasta SMP Widya Utama (Widut) Kota Cirebon sudah dinyatakan tidak beroperasi (tutup).
Legalitas ijazah, kini menjadi kewenangan pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon.
Ketiadaan siswa menjadi salah satu faktor sudah tidak adanya kegiaatan belajar mengajar (KBM) di sekolah swasta yang berdiri sekitar tahun 1985 tersebut.
Hal itu, menimbulkan kekhawatiran pihak sekolah swasta khususnya di wilayah Kota Cirebon yang hingga saat ini kondisinya semakin terpuruk.
Jelang Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027, pihak sekolah swasta saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan jumlah siswa yang diinginkan.
Ketua Yayasan Pendidikan Budaya Kota Cirebon, Agus Sukmawanto mengatakan, sekolah swasta berbeda dengan negeri, swasta sudah mulai membuka pendaftaran siswa baru.
“Tolonglah pemerintah itu hapus PPDB atau SPMB karena merugikan sekolah swasta. Saya merasakan sekolah Budaya, Cokro, atau 27 kan itu sekolah-sekolah lama di Kota Cirebon. Kalau bisa jangan dibinasakan, dibantu mencari solusinya yang terbaik. (Sistem) Zonasi itu merusak (mutu) pendidikan,” pinta Agus dikutip dari Kabar Cirebon.
“Saya seorang yang peduli dengan pendidikan, anak yang mau sekolah itu harus mencari sumber daya yang bagus, bukan sekelas isinya 30 atau 40 siswa, rusak. Mangkannya pendidikan di Indonesia banyak bullying di sekolah-sekolah yang siswanya banyak,” tuturnya.
Dengan kondisi sekolah-sekolah swasta yang kecil, Agus menegaskan bahwa pemerintah pusat hingga daerah harus sidak, bukan laporan data atau statistik saja.
“Harus datangi sekolah-sekolah yang kecil, berapa siswa di sekolah swasta?, berapa sekolah swasta?, mana sekolah yang rusak atau kondisi sekolahnya bagai mana?. Tidak semua sekolah swasta memungut, di Budaya ini tidak ada uang gedung,” tegas Agus.
Sebelum adanya dana BOS, Agus menjelaskan bahwa jumlah siswanya lebih dari 400. Saat ini, jumlah total siswa SD Budaya sekitar 50 dan SMP Budaya hanya sekitar 20 siswa.
“Saya berharap ada sidak ke sekolah-sekolah swasta, terutama sekolah-sekolah swasta kecil dan berdiri sejak lama. Bantu dan bina sekolah-sekolah swasta yang kecil,” harapnya.











