KabarSunda.com- Kabupaten Sumedang harus mampu meningkatkan kemampuan produksi sumber daya pangan lokal yang sudah ada untuk mewujudkan kemandirian pangan.
Wakil Bupati Sumedang M Fajar Aldila mengatakan Kabupaten Sumedang memiliki potensi besar untuk mempercepat kemandirian pangan lewat sumber daya pangan lokal yang sudah eksisting produksi.
Beberapa di antaranya yakni Ubi Cilembu, pisang, jagung, singkong dan tentu saja padi.
“Pangan bukan hanya urusan teknis, tapi menyangkut hidup dan matinya sebuah bangsa. Harus mampu mengoptimalkan sumber daya lokal seperti ubi Cilembu, pisang, jagung, dan umbi-umbian agar menjadi pangan alternatif yang berdaya saing,” ujar Fajar.
Ia menegaskan, Pemkab Sumedang telah berkomitmen membangun sistem pangan yang kuat dari hulu ke hilir melalui kerja sama dengan Universitas Winaya Mukti dan dukungan program Luas Tambah Tanam (LTT) dari Kementerian Pertanian.
Menurut Fajar, kemandirian pangan tidak bisa hanya mengandalkan produksi beras. Kuncinya adalah diversifikasi pangan dan perubahan budaya konsumsi masyarakat.
“Mengubah pola konsumsi ke pangan lokal bukan hal mudah. Ini soal budaya dan ekonomi. Karena itu, kita harus bergerak bersama pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat,” tambahnya.
Fajar juga menggarisbawahi tiga langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mewujudkan Sumedang sebagai daerah mandiri pangan.
“Pertama Merumuskan strategi aplikatif yang bisa dijalankan hingga tingkat desa dan rumah tangga. Kedua Memperkuat kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan petani. Ketiga mendorong inovasi pengolahan pangan lokal dengan sentuhan teknologi dan kemasan modern agar produk Sumedang dapat menembus pasar yang lebih luas,” katanya.
Ia juga menjelaskan arah dan strategi Pemda Sumedang dalam pembangunan pangan berkelanjutan dan peran pemerintah dalam mendukung inovasi pertanian dan pelaku usaha pangan lokal.
Sinergi antara sektor pertanian, lingkungan dan industri dalam menjaga ekologi daerah. Program unggulan daerah dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis keseimbangan lingkungan.
Ia juga menyebutkan, terkait program ketahanan pangan Pemda Sumedang mempunyai program Starbak, Satu Hektare Buruh Tani Bangkit.
“Konsepnya, buruh tani yang tergabung dalam kelompok tani menggarap lahan milik kas desa dan pemerintah daerah bantu baik untuk pupuknya dan beberapa alsintan,” katanya.
Fajar menyebutkan, Pemkab Sumedang pada 2026 akan fokus memberikan bantuan pupuk kepada para petani.
“Pertama, pupuk tidak sulit didapatkan oleh petani. Masih ada problematika di lapangan dan ada admimistrasi yang dinilai sulit oleh petani. Kadis Pertanian harus bisa membuat terobosan,” kata Fajar.
Fajar menyebutkan, untuk ketahanan pangan pemerintah daerah membantu program ketahanan pangan yang dilakukan oleh Polres Sumedang dan Kodim/O610 Sumedang.
“Kemarin kami membantu menanam Ubi Cilembu didalam Polybag, Padi dan Jagung. Ini kerja sama Forkofimda dan kolaborasi agar tetap terjaga ketahanan pangan di Kabupaten Sumedang,” kata Fajar.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, Pemda Sumedang rutin menggelar Gerakan Pasar Murah. “Untuk mengiterpensi harga pangan dilakukan Gerakan Pasar Murah. Seperti beras, telur, bumbu dapur, minyak kerjasama dengan beberapa vendor,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tono Suhartono menyebutkan Pemkab Sumedang sangat terbantu dengan adanya Petani Milenial.
“Kami akan menambah lagi petani-petani milenial. Mudah-mudahan petani milenial ini yang melek teknologi,” katanya.











