Kok Bisa Kereta Cepat Arab Saudi 1.500 Km Hanya Rp116 Triliun, Indonesia 142 Km Rp118 Triliun

KabarSunda.com- Proyek ambisius Arab Saudi membangun kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer mencuri perhatian publik dunia. Tak hanya karena jaraknya yang luar biasa panjang, tapi juga karena biayanya yang relatif murah, hanya sekitar Rp116 triliun.

Kereta cepat yang diberi nama Saudi Land Bridge ini akan menghubungkan Pelabuhan Jeddah di Laut Merah hingga Pelabuhan Dammam di Teluk Arab, melintasi ibu kota Riyadh.

Dilansir dari Daleel, Sabtu, 25 Oktober 2025, platform resmi milik Program Pembangunan Industri dan Logistik Nasional (NIDLP) Arab Saudi, Sabtu, 25 Oktober 2025, waktu tempuh antara Jeddah dan Riyadh dipangkas dari sekitar 12 jam menjadi hanya 4 jam

Proyek ini menjadi bagian penting dari program Saudi Vision 2030 yang bertujuan mengubah perekonomian negara dari ketergantungan minyak menjadi berbasis logistik dan pariwisata.

Proyek yang menelan biaya sekitar US$7 miliar ini dipuji karena efisiensi pembiayaannya, mengingat jalurnya hampir 11 kali lebih panjang dari kereta cepat di Indonesia.

Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh di Indonesia memiliki panjang hanya 142 kilometer dengan total biaya sekitar Rp118 triliun, sesuai laporan BPK dan Kementerian BUMN pada 2023–2024.

Artinya, biaya per kilometer proyek di Indonesia sekitar Rp831 miliar, sedangkan di Arab Saudi hanya sekitar Rp77 miliar per kilometer.

Perbedaan biaya ini ramai diperbincangkan warganet. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana Arab Saudi bisa membangun jaringan sepanjang itu dengan anggaran yang bahkan lebih kecil dari proyek di Indonesia.

Pemerintah Arab Saudi disebut mendapat keuntungan dari kondisi geografis yang relatif datar dan infrastruktur awal yang kuat. Selain itu, proyek ini juga didukung penuh oleh dana pemerintah serta perencanaan logistik yang matang.

Di Indonesia, proyek KCJB diwarnai sejumlah tantangan. Mulai dari pembebasan lahan, perubahan desain jalur, hingga penyesuaian nilai kontrak karena inflasi dan perubahan spesifikasi teknis. Semua faktor tersebut ikut memicu kenaikan biaya.

Pihak PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyebut, biaya besar tersebut bukan semata untuk jalur, melainkan juga mencakup teknologi, infrastruktur pendukung, dan pembangunan kawasan TOD (Transit Oriented Development) di sekitar stasiun utama.