KabarSunda.com- Anak muda menghadapi tantangan finansial yang makin kompleks, mulai dari penurunan tabungan hingga peningkatan penggunaan layanan bayar-nanti yang mendorong risiko utang.
Survei terbaru menunjukkan kesehatan finansial generasi muda melemah dan tingkat tabungan menurun dalam beberapa bulan terakhir.
Fenomena doom spending atau belanja kompulsif untuk melampiasan stres ikut disebut sebagai pemicu berkurangnya ruang menabung. Selain itu, penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) dan pinjaman digital meningkat di kelompok usia 18–30 tahun.
Kebiasaan ini menyebabkan banyak anak muda kesulitan mengatur arus kas dan membangun dana darurat, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup.
Pengaruh Media Sosial dan Kurangnya Manajemen Keuangan
Media sosial dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong perilaku konsumtif. Konten gaya hidup dan tren belanja cepat memicu fear of missing out (FOMO), sehingga keputusan finansial sering dibuat tanpa perencanaan.
Di sisi lain, masih banyak anak muda yang belum memiliki kebiasaan membuat anggaran atau mencatat pengeluaran bulanan.
Dalam penjelasannya, Aqil Triyadi, seorang analis, menegaskan, “Banyak anak muda tidak memiliki catatan pengeluaran — itu kesalahan fatal karena membuat mereka kehilangan kontrol arus kas.”
Sementara itu, perencana keuangan Kamila Elliott mengingatkan pentingnya perspektif jangka panjang dengan menyatakan,
“Setelah merasa nyaman dengan cadangan uang tunai, pertimbangkan untuk berinvestasi — dan pikirkan jangka panjang, jangan terjebak pada tren.”
Otoritas terkait juga mengajak generasi muda lebih cermat dalam mengelola uang melalui program literasi keuangan.
Dalam kampanye edukasi, lembaga tersebut menyampaikan, “Ikutan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE-IT) 2025 — Siap jadi generasi muda yang cerdas finansial?”
Data terbaru menempatkan BNPL dan pinjaman digital sebagai layanan dengan pertumbuhan tercepat di kalangan anak muda.
Kondisi ini membuat regulator memperkuat edukasi mengenai risiko utang jangka pendek dan pentingnya verifikasi sebelum menggunakan layanan keuangan digital.
Sejumlah analisis juga menyoroti bahwa hampir separuh Gen Z mengalami kesulitan menabung akibat kombinasi gaya hidup konsumtif, kenaikan harga kebutuhan, dan preferensi pada pembayaran cicilan jangka pendek.
Pakar menilai kebiasaan finansial yang kurang sehat dapat berdampak jangka panjang pada stabilitas ekonomi anak muda. Pencatatan keuangan, pembatasan penggunaan layanan bayar-nanti, dan peningkatan literasi menjadi langkah yang terus didorong untuk memperbaiki kondisi ini.











