KabarSunda.com- Pemerintah Kota Cimahi menyambut positif rencana pengoperasian Kereta Rel Listrik (KRL) Bandung Raya rute Padalarang–Cicalengka yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027.
Langkah strategis dari Kementerian Perhubungan ini dinilai menjadi angin segar bagi kawasan metropolitan Bandung Raya yang selama bertahun-tahun bergulat dengan kemacetan parah, terutama di koridor utara-selatan.
Dengan populasi yang terus bertambah dan aktivitas ekonomi yang semakin tinggi, kehadiran KRL diharapkan menjadi game changer dalam pola mobilitas masyarakat.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi, Endang, menegaskan bahwa pihaknya memberikan dukungan tanpa syarat terhadap proyek elektrifikasi jalur kereta api tersebut.
Meskipun hingga kini Pemkot Cimahi belum menerima undangan resmi untuk rapat koordinasi teknis, Endang memastikan bahwa jajarannya siap terlibat aktif dalam setiap tahapan perencanaan hingga pelaksanaan.
“Kami sangat mendukung. Ini bukan hanya soal transportasi, tapi juga tentang perubahan perilaku masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan massal yang lebih efisien, lebih hemat, dan ramah lingkungan,” ujar Endang kepada wartawan pada Jumat, 28 November 2025.
Ia menambahkan, pengalaman sukses KRL Jabodetabek menjadi bukti nyata bahwa kereta listrik mampu mengurangi volume kendaraan pribadi secara signifikan.
Jika diterapkan di Bandung Raya, dampaknya akan terasa langsung di jalan-jalan utama Cimahi seperti Jalan Amir Machmud, Jalan Gatot Subroto, dan akses menuju tol Baros yang kerap macet total pada jam sibuk.
Menurut Endang, salah satu harapan terbesar dari kehadiran KRL adalah penurunan angka kemacetan yang selama ini merugikan ekonomi hingga miliaran rupiah per hari.
Studi internal Dishub Kota Cimahi mencatat, rata-rata warga menghabiskan 1,5–2 jam per hari terjebak macet hanya untuk perjalanan dalam kota atau menuju Bandung.
“Dengan KRL, waktu tempuh dari Cimahi ke Bandung atau sebaliknya bisa dipangkas menjadi 20–30 menit saja. Bayangkan berapa banyak waktu produktif yang bisa diselamatkan,” katanya.
Selain itu, integrasi antar moda seperti feeder bus atau angkot yang terhubung langsung dengan stasiun juga akan menjadi kunci keberhasilan. Endang berharap ada stasiun baru atau revitalisasi stasiun existing di wilayah Cimahi sehingga aksesibilitas semakin maksimal.
Lebih dari sekadar mengatasi macet, KRL Bandung Raya diproyeksikan memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal.
Petani di Cimahi Selatan yang selama ini kesulitan mengangkut hasil bumi ke pasar tradisional di Bandung akan mendapat alternatif transportasi murah dan cepat.
Pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga destinasi wisata di kawasan Lembang, Ciwidey, dan Pangalengan juga akan lebih mudah dijangkau wisatawan.
“Karyawan yang selama ini terlambat masuk kantor karena macet akan lebih disiplin. Pengusaha juga akan lebih mudah mendistribusikan barang. Semua lapisan masyarakat akan merasakan manfaatnya,” tegas Endang.
Ia juga menyebut, dengan tarif yang terjangkau seperti KRL Jabodetabek, masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah tetap bisa menikmati transportasi berkelas tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk bensin atau parkir.
Meski antusiasme tinggi, Endang mengakui bahwa hingga saat ini detail teknis seperti letak stasiun, jadwal operasional, hingga integrasi dengan transportasi lokal belum dibahas secara mendalam.
Namun, ia optimistis komunikasi intensif dengan Kementerian Perhubungan, PT KAI, dan pemerintah kabupaten/kota lain di Bandung Raya akan segera terjalin.
“Kami siap membuka ruang diskusi kapan saja. Yang terpenting, proyek ini harus berjalan sesuai target 2027 agar manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
KRL Bandung Raya tidak hanya akan menjadi tulang punggung transportasi massal, tetapi juga simbol kolaborasi lintas daerah demi kesejahteraan bersama. Bagi Cimahi, ini adalah peluang emas untuk bangkit dari belenggu kemacetan dan melaju lebih cepat menuju kota yang lebih produktif dan layak huni.











