Yang mengejutkan, aktivitas ilegal ini ternyata sudah berlangsung hampir lima tahun, dan warga sekitar sama sekali tidak menaruh curiga.
Penggerebekan oleh Satreskrim Polresta Bogor Kota pada Jumat malam (28/11) mengungkap fakta bahwa produk bermerek dagang Mie Wayang dan Kulit Pangsit Wayang ini dicampur dengan bahan kimia terlarang, yaitu tawas dan potasium.
Para pelaku pembuat mie beracun ini diketahui sudah lama menempati rumah kontrakan di kawasan tersebut. Ketua RT 002 RW 007, Fery Sulistio, mengatakan operasional pabrik ini sudah ada jauh sebelum masa jabatannya.
Meskipun warga tahu rumah itu digunakan untuk membuat mie dan kulit pangsit, tidak ada yang menyangka di dalamnya terdapat praktik penggunaan bahan berbahaya.
“Mereka sudah ngontrak di sini sekitar lima tahunan. Soal bahan terlarang, saya baru tahu semalam dari kepolisian,” ujar Fery pada, Minggu, 30 November 2025.
Fery menambahkan, interaksi para pekerja dengan warga sekitar cenderung minim dan tertutup. Mereka hanya berbaur untuk keperluan mendesak, seperti membeli rokok atau gas. “Berbaurnya minim. Paling hanya sama tetangga sebelahan saja,” katanya.
Selain menggunakan bahan kimia terlarang, pabrik rumahan ini juga beroperasi tanpa mengantongi izin. Ketua RT Fery Sulistio menegaskan, pihak lingkungan tidak pernah menerima permohonan izin dari pemilik usaha.
“Warga tahu mereka produksi mie dan pangsit, tapi karena tidak ada keluhan mengganggu, saya biarkan saja. Kalau ada laporan, pasti saya tindaklanjuti,” ucapnya.
Kasatreskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Aji Riznaldi Nugroho, mengungkapkan pabrik ini melanggar aturan izin edar. Meskipun beroperasi di Kota Bogor, produk ini justru mencantumkan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Kabupaten Bogor.
Tawas dan Potasium Ditemukan di Lokasi Produksi
Setelah penyelidikan intensif selama seminggu, Polisi menggerebek lokasi dan menemukan mesin pembuat mie dan pangsit, bahan baku, serta bahan tambahan berbahaya seperti potasium, baking soda, dan tawas.
Kompol Aji menjelaskan bahwa isi kemasan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Dalam kemasan tidak tercantum penggunaan tawas maupun potasium. Padahal di lokasi kami temukan bahan-bahan itu dipakai untuk proses produksi,” jelas Aji.











