10 Kasus di Jabar, IDI Sebut Super Flu Bisa Sembuh Sendiri

KabarSunda.com- Istilah super flu atau H3N2 subclade K yang belakangan ramai diperbincangkan publik dipastikan bukan penyakit baru yang berbahaya.

Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan sudah ada 62 kasus, sementara di Jawa Barat tercatat baru 10 kasus yang terdeteksi.

Ketua IDI Jabar dr. Moh. Lutfhi menjelaskan, secara medis terdapat dua kelompok besar virus influenza yang umum dikenal, yakni H1N1 dan H3N2.

Di Indonesia, tipe H3N2 menjadi penyebab yang paling sering ditemukan, sedangkan super flu merupakan mutasi terbarunya.

“Jadi sebetulnya H3N2 ini kan umum ya sebagai penyebab influenza dan tipe yang baru ini yang subkletka ini memang mutasi dari H3N2 tapi juga tidak lebih ekstrim gitu ya perubahannya ya hampir sama dengan virus yang lain,” kata Lutfhi dikutip dari Kompas.com pada Jumat, 2 Januari 2026.

Cukup Istirahat dan Hidup Bersih

Lutfhi menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan, apalagi sampai menyamakan super flu dengan Covid 19. Dari sisi dampak kesehatan, penyakit ini dinilai setara dengan flu biasa, meski diakui penularannya relatif lebih cepat.

Pasien umumnya dapat pulih dengan perawatan sederhana, yakni menerapkan pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan bergizi. Penguatan imun tubuh menjadi kunci utama menghadapi mutasi virus ini.

“Cuman dengan istirahat yang cukup, pola hidup bersih, itu juga bisa membaik diri,” tegas Lutfhi.

Temuan mutasi subclade K ini merupakan yang pertama kali terdeteksi di Jawa Barat. Walaupun virus H3N2 sendiri sudah lama beredar di masyarakat, mutasi spesifik ini baru mendapatkan perhatian khusus di awal tahun 2026.

“Sepengetahuan saya sih ini kasus yang pertama ditemukan adanya mutasi ya dari H3N2 ini ya mutasi baru dari H3N2 gitu Kalau H3N2 nya kan memang sudah Memang sudah dari awal ditemukan ya,” katanya.

Masih Batas Aman dan Terkendali

Kementerian Kesehatan RI sebelumnya juga menegaskan bahwa perkembangan influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih berada dalam batas aman.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI dr. Prima Yosephine menjelaskan bahwa peningkatan kasus ini terpantau secara global sejak kuartal akhir 2025.

Subclade K sendiri pertama kali teridentifikasi oleh CDC Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Berdasarkan penilaian WHO, tidak ada peningkatan tingkat keparahan pada varian ini.

“Penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia menunjukkan tidak ada peningkatan tingkat keparahan pada subclade K. Gambaran klinisnya masih sama dengan flu musiman,” kata dr. Prima.

Gejala yang muncul umumnya berupa demam, batuk, pilek, sakit kepala, hingga nyeri tenggorokan. Di Asia, varian ini sudah terdeteksi di China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak pertengahan 2025.