KabarSunda.com- Istilah super flu belakangan ramai dibicarakan publik, seiring meningkatnya laporan kasus influenza di sejumlah negara.
Tak sedikit masyarakat yang kemudian menyamakannya dengan flu babi atau flu burung, dua penyakit yang sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran global.
Padahal, menurut dokter sekaligus ahli paru dari RS Persahabatan Prof. Erlina Burhan, ketiganya memiliki perbedaan mendasar, terutama dari sisi strain virus penyebabnya.
Flu Babi dan Flu Burung: Sama-sama Influenza, Tapi Berbeda Asal
Prof. Erlina menjelaskan bahwa flu babi dan flu burung sama-sama termasuk penyakit influenza, meski penamaannya sering membuat publik keliru memahami sumber penularannya.
“Kalau flu babi itu namanya saja, tapi bukan juga penyebabnya babi, tapi tetap virus influenza itu H1N1 yang bermutasi,”ungkapnya pada talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Rabu, 14 Januari 2026.
Virus influenza H1N1 yang dikenal sebagai flu babi pertama kali ditemukan di Meksiko dan sempat disebut sebagai flu Meksiko.
Sementara flu burung disebabkan oleh virus H5N1 yang berasal dari unggas seperti ayam dan burung.
Perbedaan strain inilah yang membuat karakter penularan dan dampaknya pada tubuh manusia menjadi tidak sama.
Bukan Virus Baru, Tapi Varian yang Bermutasi
Berbeda dengan flu babi dan flu burung, istilah super flu merujuk pada virus influenza A varian H3N2 yang mengalami mutasi. Prof. Erlina menegaskan bahwa secara medis, super flu tetaplah influenza.
“Ini adalah virus influenza juga tetapi yang variannya H3N2 yang ada mutasi, satu mutasi di subclade K,”imbuhnya.
Mutasi di subclade K ini membuat virus menjadi sedikit lebih sulit dikenali oleh sistem imun, terutama pada kelompok rentan.
Tubuh yang biasanya mampu mengenali H3N2 standar membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons varian yang telah bermutasi.
Mengapa Gejalanya Terasa Lebih Berat?
Menurut Prof. Erlina, sebagian besar mutasi virus sebenarnya menghasilkan strain yang lebih lemah.
Namun dalam beberapa kasus, mutasi justru dapat membuat gejala terasa lebih berat dan berlangsung lebih lama.
“Jadi inilah menyebabkan dia mungkin agak sedikit mudah menular dan dengan gejala yang saya menyebutnya bisa lebih lama dari biasanya dan pada orang tertentu akan terasa lebih berat,”lanjutnya.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kasus influenza yang memerlukan perawatan, terutama pada lansia dan anak-anak, seperti yang dilaporkan di Amerika Serikat saat musim dingin.
WHO Belum Menyebut Super Flu Lebih Berbahaya
Meski terjadi peningkatan kasus di beberapa negara, Prof. Erlina menegaskan bahwa secara epidemiologi, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO belum menyatakan super flu sebagai virus yang lebih ganas atau lebih mudah menular dibandingkan influenza lain.
Kondisi musim dingin menjadi faktor penting karena virus influenza memang cenderung lebih mudah menyebar pada periode tersebut, terutama di negara dengan populasi lansia yang besar.
Perbedaan super flu, flu babi, dan flu burung terletak pada strain virusnya, bukan pada tingkat kepanikan yang perlu dibangun.
Masyarakat diimbau tetap waspada, menjaga daya tahan tubuh, dan tidak mudah terpengaruh istilah yang menyesatkan.
Memahami perbedaan ini penting agar publik tidak panik, namun tetap sadar bahwa influenza, dalam bentuk apa pun, bisa berdampak serius pada kelompok rentan bila tidak ditangani dengan tepat.











