Intinya, bibit kimia akan disebar di atas awan agar pecah dan turun ke wilayah laut atau waduk. “Jadi seperti memindahkan awan hujan yang ekstrem ke laut,” ujarnya.
Cuaca Ekstrem, BNPB dan BPBD Lakukan Modifikasi Cuaca di Jawa Barat dan Jakarta
KabarSunda.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat (Jabar) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan modifikasi cuaca di wilayah Jawa Barat dan Jakarta.
Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi curah hujan tinggi di beberapa daerah ini.
Kepala Plaksana (Kalak) BPBD Jabar Teten Ali Mulku Engkun mengatakan modifikasi cuaca ini dilakukan pada 18 Januari 2029 lalu.
“Tapi masih tetap hujan, karena memang awannya di atas masih sangat masif dan berdasarkan hasil perhitungan BMKG, curah hujan di Jawa Barat masih sangat tinggi,” ucap Teten dikutip dari Tribun Jabar, Jumat, 23 Januari 2026.
Sebelum melakukan modifikasi cuaca, petugas dari BNPB melakukan analisis konidisi awan bersama Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Hal ini agar bisa mengetahui apakah modifikasi cuaca diperlukan atau tidak.
Jika pertumbuh awannya diprediksi dapat menghasilkan hujan yang relatif ekstrem atau hujan lebat hingga terjadi bencana, maka tim akan menyebarkan bibit-bibit kimia. Bibit kimia ini sesuai dengan rekomendasi para ahli dari BMKG.
“Nanti kita lihat juga apakah akan terus dilakukan sampai 29 Januari 2026 mendatang atau tidak. Kemarin dari (bandara) Halim Perdana Kusuma, ditambah juga dari (bandara) Husein Sastranegara,” katanya.
Pihaknya melakukan operasi modifikasi cuaca ini untuk meng-cover wilayah-wilayah yang diperkirakan curah hujannya tinggi.
Modifikasi cuaca ini secara teknik bertujuan untuk memindahkan potensi hujan dari area pemukiman ke lokasi yang lebih aman.
“Seperti di laut atau waduk dengan mekanisme jumping proses, di mana awan hujan yang sedang bergerak menuju daratan dicegat dari laut,” katanya.
Modifikasi cuaca ini akan terus dilakukan sampai kondisi hujan relatif terkendali. Satu kali penerbangan biasanya akan membwa satu ton bibit kimia.
“Tergantung pada pesawat apa yang digunakan dan kondisi awannya bagaimana. Dari BNPB sudah empat kali melakukan (modifikasi cuaca),” katanya.













