KabarSunda.com- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka, Jawa Barat, menangani 26 kejadian bencana alam yang dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan berintensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Bencana tersebut meliputi banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan seluruh perangkat daerah terkait telah diinstruksikan untuk bergerak cepat dan terkoordinasi dalam penanganan kedaruratan guna memastikan keselamatan masyarakat terdampak.
“Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Seluruh perangkat daerah harus bergerak cepat dan terkoordinasi dalam penanganan kedaruratan akibat cuaca ekstrem,” kata Eman.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka, sebanyak 26 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah.
Dampaknya dirasakan pada permukiman warga serta sejumlah infrastruktur publik.
Eman menjelaskan langkah penanganan yang dilakukan antara lain evakuasi warga terdampak, pemantauan wilayah rawan bencana, pembukaan akses jalan yang tertutup material longsor, serta pendataan kerusakan.
Selain penanganan darurat, Pemkab Majalengka juga menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) untuk mempercepat perbaikan infrastruktur yang terdampak banjir dan longsor.
“Kami juga mengerahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKP3) untuk melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terdampak banjir,” ujarnya.
Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman menyampaikan bahwa lahan sawah yang terdampak banjir berada di sejumlah kecamatan, antara lain Jatitujuh, Kertajati, Ligung, Sumberjaya, Dawuan, Kasokandel, Cikijing, dan Cingambul.
Menurutnya, luas lahan pertanian yang terdampak mencapai ratusan hektare dan saat ini masih dalam proses pendataan di lapangan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka Agus Tamim memastikan hingga saat ini tidak terdapat korban jiwa akibat rangkaian bencana tersebut.
Namun, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan dan beberapa ruas jalan tertutup material longsor.
Ia menambahkan bahwa potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Januari 2026.
“Tim kami masih terus melakukan pendataan dan penanganan di lapangan,” kata Agus.













