Konferensi Asia Afrika 1955 tak bisa dilepaskan dari Gedung Merdeka yang terletak di jantung Kota Bandung. Di gedung itulah, konferensi yang diikuti oleh pemimpin 29 negara di Asia Afrika itu.
Yang tak banyak orang tahu, bangunan yang kelak dikenal sebagai Gedung Merdeka itu dulunya adalah tempat dansa-dansi sinyo-sinyo Belanda di zaman kolonial. Nama gedungnya, Societeit Concordia.
“Awalnya, dibangun C.P.W. Schoemaker pada 1922 dan diberi nama Societeit Concordia. Tempat pertunjukan bergengsi untuk musik, tonil, teater, sampai pesta dansa. Tahun 1955, namanya menjadi Gedung Merdeka dan menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika,” dikutip dari Majalah INTISARI edisi April 2009.
Sementara Kompas.com menulis Societeit Concordia adalah “Tempat nongkrong atau tempat rekreasi sekelompok elite dan masyarakat Belanda yang tinggal di Bandung dan sekitarnya.”
Kelompok elite itu terdiri atas “Pegawai perkebunan, pembesar, perwira, pengusaha, dan kalangan lain yang cukup kaya sehingga Societeit Concordia memiliki desain yang mewah,” tambah Kompas.com.
Bahkan, orang kulit putih yang tidak memiliki akses ke komunitas elite Eropa mengalami kesulitan masuk ke gedung Societeit Concordia.
Karena itulah, Societeit Concordia disebut sebagai salah satu simbol rasisme Belanda di Indonesia.
Jika di masa Belanda gedung itu digunakan untuk dansa-dansi, di masa Jepang, gedung Societeit Concordia berubah nama menjadi Dai Toa Kaman.
Fungsinya tidak lagi menjadi tempat berkumpulnya orang elite tapi sebagai tempat pertemuan dan pusat kebudayaan.
Saat Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada Agustus 1945, Gedung Societeit Concordia berubah fungsi menjadi kantor pusat pemerintahan Kota Bandung.
Saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, gedung digunakan sebagai markas pemuda Indonesia untuk menghadapi tentara Jepang yang berusaha menjaga status quo.
Pada 1954, pemerintah Indonesia menetapkan Bandung sebagai kota penyelenggara Konferensi Asia Afrika yang pertama.
Untuk menyukseskannya, dipilihlah Gedung Merdeka sebagai lokasi diselenggarakannya konferensi.
Yang menjadi pertimbangannya, selain karena wujudnya yang megah, gedung tersebut juga terletak di lokasi yang sangat strategis: dekat Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.
Pada awal 1955, gedung itu dipugar untuk disesuaikan dengan kebutuhan konferensi yang bertaraf internasional. Pemugaran itu dipercayakan kepada Jawatan Pekerjaan Umum Provinsi Jawa barat.
Konferensi Asia Afrika yang pertama akhirnya dibuka pada 18 April 1955 dan berakhir seminggu kemudian. Sebanyak 29 pemimpin negara-negara Asia Afrika hadir dalam konferensi tersebut.
KAA 1955 menghasilkan apa yang dikenal sebagai Dasasila Bandung, yang meliputi:
1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional
Setelah KAA 1955 yang sukses itu, banyak negara Asia-Afrika yang mempertanyakan kondisi Gedung Merdeka dan Bandung yang menjadi simbol kerja sama luar biasa tersebut.
Salah satu orang yang sering mendapatkan pertanyaan mengenai hal tersebut dari para delegasi KAA adalah Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja.
Prof. Mochtar yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sering mendapat pertanyaan dan saran mengenai Gedung Merdeka yang menjadi saksi KAA.
Karena itulah dia kemudian mengutarakan keinginannya menjadikan Gedung Merdeka sebagai museum melalui forum Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 1980.
Gagasan ini kemudian disambut dengan meriah oleh berbagai kalangan, termasuk Soeharto sebagai presiden Indonesia saat itu.
Gedung Merdeka kemudian secara resmi menjadi Museum Konferensi Asia Afrika setelah disahkan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980 dalam acara puncak Peringatan 25 Tahun KAA.
Pada 1955, Indonesia juga sukses menyelenggarakan pemilu pertamanya. Setelah itu, Gedung Merdeka dijadikan gedung konstituante setelah terbentuk Konstituante Republik Indonesia sebagai hasil dari pemilu.
Pada 1965, Gedung Merdeka menjadi tempat Konferensi Islam Asia Afrika. Dan ketika Gerakan 30 September 1965 meletus, Gedung Merdeka dikuasai oleh militer dan sebagiannya digunakan sebagai tempat tahanan politik.
Maret 1980, Konferensi Asia Afrika ke-25 juga berlokasi di gedung ini. Pada puncak peringatan diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto yang ketika itu sudah menjadi Presiden RI ke-2.
Museum Asia Afrika memiliki berbagai koleksi terkait penyelenggaraan KAA dan sejarah hubungan negara-negara Asia dan Afrika. Dokumen dan koleksi yang tersimpan di Museum Konferensi Asia Afrika meliputi:
1. Artefak Konferensi Asia-Afrika: Museum ini menyimpan dokumen asli, foto-foto, dan artefak yang berhubungan dengan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
2. Bahan arsip: Museum ini juga memiliki koleksi dokumen sejarah dan bahan arsip yang terkait dengan perjalanan sejarah negara-negara Asia dan Afrika.
3. Pakaian dan aksesori: Koleksi museum ini juga mencakup pakaian, aksesoris, dan atribut yang digunakan oleh para delegasi dan pemimpin negara pada saat Konferensi Asia-Afrika.
4. Buku, majalah, dan publikasi: Koleksi museum juga meliputi buku, majalah, dan publikasi terkait dengan Konferensi Asia-Afrika. Koleksi-koleksi ini membantu pengunjung memahami lebih baik tentang sejarah dan arti penting Konferensi Asia-Afrika dan peran negara-negara Asia dan Afrika dalam konteks global.
Gedung Merdeka dirancang oleh Van Galen Last dan CP Wolff Schoemaker pada tahun 1926. Dua arsitek terkenal asal Belanda ini merupakan guru besar Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng, kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung/ITB).
Desain gedung kental dengan nuansa art deco yang megah. Hal ini terlihat dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia, ruang tempat minum dan bersantai yang terbuat dari kayu, serta lampu kristal yang tergantung gemerlapan sebagai penerang.
Gedung Merdeka menempati area seluas 7.500 meter persegi.
Saat ini, Gedung Merdeka menjadi Museum Asia Afrika yang memamerkan berbagai benda koleksi dan foto-foto Konferensi Asia Afrika 1955 yang menghasilkan Gerakan Non Blok itu.











