Pemerhati Pendidikan: Perlu Duduk Bersama Akademisi Bahas Program Wajib Militer Siswa di Jabar

KabarSunda.com- Pemerhati pendidikan sekaligus anggota Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI), Nina Anggraeni, buka suara mengenai program wajib militer yang dicanangkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Nina menilai program tersebut perlu kajian matang dan tidak perlu terburu-buru dilaksanakan.

“Rencana KDM (Kang Dedi Mulyadi) dalam hal memberikan pendidikan militer dalam membina siswa yang unik, saya katakan tidak nakal tapi unik, mempunyai kekhasan tersendiri yang bisa jadi tidak sejalan dengan karakter bangsa kita dan ini membutuhkan pembinaan,” bebernya, seperti dilansir KompasTV, Selasa, 29 April  2025).

“KDM berencana untuk melakukan pembinaan ini melalui pendidikan militer,” tambahnya.

Ia berpendapat, selama program tersebut bertujuan untuk membina dan menjadikan siswa berkarakter baik, dirinya mengapresiasi.

Namun, kata dia, ketika akan mengimplementasikan pendidikan militer di sekolah khusus dan  bagi anak-anak khusus, ada hal-hal yang harus digarisbawahi.

“Pertama, tidak harus terburu-buru yang akan diimplementasikan di bulan Mei ini,” ucapnya.

“Kenapa? Karena KDM harus duduk bersama dengan para akademisi, antara lain pakar pendidikan, para psikolog, stakeholders yang memberikan kebijakan-kebijakan yang selama ini sudah dilakukan dalam kurikulum nasional itu tidak bisa dilupakan.”

Sebab, menurutnya, mengintegrasikan pendidikan militer di sekolah khusus, bagi anak-anak khusus, harus berasal dari payung aturan kurikulum nasional.

“Karena kurikulum nasional itu sampai detik ini, dari puluhan tahun yang lalu, walaupun berganti-ganti kurikulum, itulah kurikulum pendidikan nasional dengan sistem pendidikan nasionalnya dan harus berdasarkan itu,” bebernya.

“Jadi saya mengapresiasi sekali lagi, namun harus ada hal-hal yang dilakukan oleh KDM duduk bersama berdiskusi dan berdasarkan data.”

Nina juga mengaku pernah mendengar pernyataan Dedi Mulyadi yang akan membawa anak-anak bermasalah dan dihadapkan kepada orang tuanya.

“Artinya, KDM juga akan melakukan wawancara dengan orang tua dengan pertanyaan bagaimana nih anak bapak ibu seperti ini, apakah akan diberikan kepada kami untuk dimasukkan ke katanya barak,” imbuhnya.

Artinya, lanjut dia, akan dilakukan pendataan melewati wawancara kepada orang tua dan juga pada si anak.

“Tetapi hasil wawancara itu harus membuktikan bahwa adanya kesungguhan, kesadaran yang sungguh-sungguh, maksud saya, bahwa mereka memang mempunyai anak yang harus dibina secara khusus.”

“Jika orang tua tersebut secara tulus, ikhlas, jga anak-anak yang mau melakukan pembinaan itu di boarding school yang khusus dengan pendidikan militer, silahkan, saya setuju. Karena dengan pendidikan militer, selama orang tua bahagia dan anak-anak juga bahagia, saya yakin pendidikan itu akan berhasil,” bebernya.