Jembatan Peninggalan Belanda di Tasikmalaya Dibangun Ulang, Anggaran Rp394 Juta

KabarSunda.com- Pemerintah Kota Tasikmalaya sedang melaksanakan pembangunan ulang jembatan peninggalan masa kolonial Belanda yang terletak di Kampung Bantargedang RT 03/RW 02, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari. Jembatan tersebut rusak parah beberapa bulan lalu setelah diterjang hujan deras.

Jembatan tersebut selama ini memiliki fungsi vital sebagai penghubung utama antara Jalan Bantar dan Kampung Bantargedang, serta sebagai jalur alternatif menuju Bale Kota Tasikmalaya.

Sebagai upaya pemulihan, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp394.238.000 melalui APBD Perubahan 2025 untuk proyek rehabilitasi jembatan tersebut. Pekerjaan itu diproyeksikan selama 90 hari kalender.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya, Hendra Budiman, menyampaikan bahwa pengerjaan jembatan sudah berlangsung sekitar dua minggu.

“Kami terus berupaya agar pembangunan selesai tepat waktu, sehingga warga bisa kembali menggunakan jembatan dengan aman dan nyaman,” ujar Hendra, Jumat, 10 Oktober 2025.

Hendra mengungkapkan bahwa jembatan tersebut direhabilitasi secara total. Sebab, kondisi jembatan lama sudah sangat memprihatinkan dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki hanya sebagian saja.

“Rehab jembatan ini perbaikannya secara menyeluruh. Tentu, agar jembatan ini kokoh dan aman digunakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Selama masa perbaikan, warga terpaksa menggunakan jembatan darurat yang terbuat dari bambu. Meski cukup membantu, jembatan sementara ini dianggap kurang nyaman dan kurang aman oleh para pengguna.

Ode Sulaeman (71), seorang warga sekitar mengungkapkan, jembatan itu sudah berdiri sejak sebelum ia lahir, sehingga keberadaannya memiliki nilai sejarah dan menjadi saksi bisu perjalanan waktu di wilayah tersebut.

Selama puluhan tahun, jembatan tersebut menjadi jalur vital bagi warga sekitar dalam beraktivitas sehari-hari, mulai dari akses ke pasar, sekolah, hingga tempat kerja. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi jembatan semakin menurun dan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang cukup mengkhawatirkan.

“Saya ingat dulu jembatan ini sangat kokoh dan kuat, tapi seiring berjalannya waktu dan banyak bagian yang mulai lapuk. Kemudian ditambah dengan tingginya arus hujan sehingga jembatan ini ambruk,” ujarnya.

Ode berharap, dengan adanya rehabilitasi ini, bukan hanya masalah keamanan dan kenyamanan yang dapat teratasi, tetapi juga nilai sejarah jembatan tetap terjaga.

Dia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah daerah yang sudah memperhatikan kebutuhan warga dan melakukan perbaikan jembatan tersebut.

“Semoga jembatan ini bisa bertahan lama dan tetap menjadi bagian dari sejarah serta kehidupan masyarakat di sini,” katanya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, mengaku bersyukur telah berjalannya pekerjaan itu. Kendati begitu, Diky meminta maaf atas keterlambatan pengerjaan yang disebabkan kendala anggaran.

“Anggaran sempat sulit dialihkan karena kejadian ini termasuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Baru setelah revisi APBD, pekerjaan bisa dimulai,” jelas Diky.

Diky pun berharap, proyek bisa segera rampung agar jembatan bisa kembali digunakan warga tanpa harus melalui jembatan darurat.

“Semoga pengerjaan berjalan lancar dan jembatan ini segera difungsikan kembali,” katanya.