Tasikmalaya dan Garut, Daerah Termurah untuk Hidup Slow Living di Jabar

KabarSunda.com- Dua daerah di wilayah Priangan Timur, yakni Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, tercatat memiliki pengeluaran riil per kapita terendah di Jawa Barat.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, kedua wilayah tersebut menjadi cerminan bagaimana biaya hidup di sebagian kawasan selatan provinsi ini masih tergolong rendah dibandingkan daerah perkotaan atau industri.

Dalam laporan bertajuk “Pengeluaran Riil per Kapita yang Disesuaikan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Barat, 2022–2024”, BPS mencatat pengeluaran riil masyarakat Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2024 hanya mencapai Rp8,97 juta per kapita per tahun.

Sementara Kabupaten Garut sedikit lebih tinggi, yakni Rp9,17 juta per kapita. Angka ini jauh di bawah rata-rata provinsi yang mencapai Rp12,16 juta per kapita.

Kepala BPS Jawa Barat Darwis Sitorus mengatakan rendahnya pengeluaran riil per kapita di dua daerah tersebut menunjukkan karakteristik ekonomi wilayah yang masih didominasi sektor pertanian dan perdagangan tradisional.

“Rendahnya pengeluaran bukan berarti buruk. Ini bisa berarti biaya hidup di sana memang lebih murah, sejalan dengan struktur ekonomi yang masih agraris dan pola konsumsi masyarakat yang sederhana,” ujar Darwis, Senin,  20 Oktober 2025.

Menurutnya, pengeluaran riil per kapita menggambarkan daya beli masyarakat setelah memperhitungkan inflasi dan perbedaan harga antarwilayah.

Dengan kata lain, angka ini dapat digunakan untuk melihat kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar secara riil.

“Wilayah selatan Jawa Barat cenderung memiliki tingkat harga barang dan jasa yang lebih rendah dibandingkan kawasan utara atau perkotaan. Sehingga meskipun pengeluarannya kecil, tingkat kesejahteraan relatif tidak jauh berbeda jika disesuaikan dengan harga lokal,” tambah Darwis.

Dalam laporan yang sama, daerah dengan pengeluaran tertinggi adalah Kota Bandung dengan Rp18,79 juta per kapita, diikuti Kota Bekasi (Rp16,77 juta) dan Kota Depok (Rp16,64 juta). Ketiganya merupakan pusat aktivitas ekonomi, industri, dan pendidikan di Jawa Barat.

Darwis menilai, kesenjangan antara wilayah selatan dan utara Jawa Barat masih menjadi tantangan utama dalam pemerataan pembangunan.

Meski demikian, BPS juga mencatat adanya peningkatan pengeluaran di hampir semua kabupaten/kota selama dua tahun terakhir.

Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, naik dari Rp8,17 juta pada 2022 menjadi Rp8,97 juta pada 2024, sedangkan Garut naik dari Rp8,28 juta menjadi Rp9,17 juta pada periode yang sama.

“Secara umum, daya beli masyarakat Jawa Barat meningkat. Rata-rata pengeluaran riil per kapita provinsi tumbuh dari Rp11,27 juta pada 2022 menjadi Rp12,16 juta pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan adanya perbaikan ekonomi pascapandemi serta peningkatan produktivitas di berbagai sektor,” ungkap Darwis.

Ia menambahkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu memperkuat strategi pembangunan berbasis wilayah untuk memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah.

“Investasi infrastruktur dan konektivitas di wilayah selatan perlu terus diperluas agar distribusi barang, akses pendidikan, dan pelayanan publik lebih merata. Dengan begitu, potensi pertanian dan pariwisata di daerah seperti Garut dan Tasikmalaya bisa meningkat nilai tambahnya,” tutur Darwis.