Rektor IPB Dorong Pertanian Regeneratif untuk Hadapi Krisis Lingkungan dan Pangan

KabarSunda.com- Rektor IPB University Arif Satria mengapresiasi peringatan 50 Tahun Ilmu Ekonomi Pertanian IPB bertajuk Golden Jubilee dan Temu Alumni Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang digelar di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 6 November 2025.

Arif berharap program studi tersebut dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan sektor pertanian Indonesia.

“Harapan yang penting bagi kita adalah bagaimana ekonomi pertanian mampu relevan terhadap dinamika hari ini,” ujar Arif.

Ia menyebut, sektor pertanian saat ini harus mampu mengombinasikan teknologi cerdas dengan isu keberlanjutan (sustainability) serta keadilan sosial (social justice). Menurutnya, ketiga isu tersebut akan menjadi arah baru bagi pertanian Indonesia ke depan.

“Tujuannya agar ketika kita melakukan riset, sudah saatnya menggunakan big data dan blockchain untuk menjawab berbagai persoalan pertanian dan pemasaran hasil pertanian agar lebih efisien dan berkeadilan,” kata Arif.

Ia menilai inovasi dan tren teknologi harus menjadi bagian dari paradigma baru dalam riset ekonomi pertanian.

Dengan begitu, lanjutnya, ekonomi pertanian yang dikembangkan IPB akan mampu menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan pangan, kemiskinan petani, dan kerusakan lingkungan.

Arif mengingatkan bahwa tren pertanian masa depan bertumpu pada kekuatan regenerative agriculture atau pertanian regeneratif, yakni pertanian yang mampu memulihkan kondisi lingkungan yang rusak dengan cara alami. Ia menegaskan, pendekatan ini berperan penting dalam menjaga kesehatan tanah.

“Tanah di dunia saat ini sudah bermasalah akibat pencemaran maupun praktik pembangunan yang kurang tepat di berbagai negara,” tutur Arif.

Ia mencontohkan film Kiss the Ground yang menggambarkan pentingnya kesadaran manusia terhadap perubahan iklim dan memburuknya kondisi tanah di bumi.

Arif menekankan bahwa pemulihan tanah merupakan langkah mendesak untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung produktivitas pertanian.

“Kalau tanah tidak subur, maka ancaman pangan kita ke depan akan semakin besar. Oleh karena itu, memperkuat pertanian regeneratif harus dilakukan,” ujar Arif menegaskan.