KabarSunda.com- Kasus perusakan kebun teh Malabar di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak.
Dugaan adanya tindakan sistematis dan pendanaan besar membuat kasus ini semakin memicu kekhawatiran.
Sejumlah informasi menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi mencapai luas 14,25 hektare, yang setara dengan sekitar 1,4 ukuran lapangan sepak bola standar FIFA.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa otak utama perusakan memiliki modal besar untuk mempekerjakan puluhan orang.
“Perusakan tersebut sistemik dan saya mendapat informasi bahwa ada orang yang punya uang kemudian menggerakkan orang untuk melakukan penebangan kebun teh,” ujarnya.
Setelah kebun teh dirusak, pelaku menanam komoditas seperti kentang untuk dijual. “Saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk segera dilakukan penangkapan dan penahanan terhadap orang yang melakukan perusakan,” lanjutnya.
Disorot oleh Anggota DPR RI
Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, menyatakan bahwa aksi perusakan tidak dilakukan secara spontan. Menurutnya, ada otak intelektual yang mengorganisir kejadian ini. Ia menekankan bahwa kerusakan belasan hektare ini bukanlah pekerjaan kecil. “Ada pola, ada pendanaan, dan jelas ada kepentingan,” ujarnya.
Rajiv juga menyebut bahwa proses perusakan dilakukan secara diam-diam selama beberapa bulan. “Kami menemukan banyak bekas potongan yang sangat rapi. Ini bukan pekerjaan satu-dua orang. Aksi ini dilakukan malam hari, saat patroli tidak ada,” tambahnya.
Menurut Rajiv, tujuan utama dari perusakan ini adalah untuk mengeruk keuntungan pribadi melalui alih fungsi lahan atau penguasaan lahan. “Saya tidak akan segan membawa perkara ini ke rapat dengan Kementerian BUMN jika diperlukan,” tegasnya.
Ia juga meminta warga untuk tetap waspada dan melapor jika melihat aktivitas mencurigakan. “Masyarakat harus berani melapor jika melihat kegiatan mencurigakan. Ini menyangkut kesejahteraan banyak keluarga,” katanya.
Pelaku Masih Diburu
Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono menyatakan bahwa sejumlah saksi telah diperiksa dan mereka mengaku perusakan dibiayai. “Sudah olah tempat kejadian perkara (TKP), dan sudah teridentifikasi orang-orang yang melakukan penebangan,” jelasnya.
Namun, pelaku utama yang mendanai perusakan masih diburu. “Kami akan mengejar orang yang mendanai atau sebagai donatur, yang memberikan uang kepada masyarakat untuk melakukan penebangan atau perusakan terhadap pohon-pohon teh ini,” terangnya.
Fakta-Fakta Terkait Perusakan
Berikut adalah tiga fakta penting terkait perusakan kebun teh di Pangalengan:
- Adanya Penebangan Liar dan Alih Fungsi Lahan
Para pekerja perkebunan menyatakan bahwa ada penebangan liar hingga alih fungsi lahan menjadi kebun sayuran. Kerusakan disebut terjadi sejak tahun 2024 di kebun teh Malabar milik PTPN VIII, Pangalengan.
- Proses Olah TKP Dilakukan
Proses olah tempat kejadian perkara (TKP) telah dilakukan Satreskrim Polresta Bandung pada Jumat (28/11/2025). Diduga ada 14,25 hektare lahan perkebunan teh yang dirusak.
- Dugaan Ada Otak Intelektual
Diduga ada otak intelektual yang mengorganisir penebangan liar serta perusakan kebun teh. Hal ini didukung oleh temuan-temuan yang menunjukkan adanya rencana dan pendanaan besar.











