Longsor di Lembang, Dua Warga Tewas dan Jalan Rawan Terputus

KabarSunda.com- Bencana longsor Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali terjadi. Kali ini longsor di Kampung Sukadami, Kecamatan Lembang yang menewaskan dua orang warga.

Selain itu, dua rumah warga terdampak, begitu pula 60 orang warga lain yang harus mengungsi. Jalan desa sepanjang 60 meter berpotensi terputus.

Menurut laporan Badan Geologi, bencana gerakan tanah atau longsor terjadi pada dua tempat di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Lokasi pertama di Kampung Sukadami RT 02 RW 07, sedangkan tempat kedua di Kampung Cipariuk-Cihaseum RT 02 RW 12.

“Informasi warga, gerakan tanah terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, pukul 04.00 WIB, setelah dipicu oleh hujan intensitas tinggi dua hari sebelumnya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria lewat keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.

Lana, mengutip aparat desa, mengatakan sebelumnya pernah terjadi tiga kali gerakan tanah di area yang sama.

Secara umum, morfologi daerah bencana longsor itu berupa lereng perbukitan bergelombang tinggi dengan kemiringan lereng curam hingga sangat curam atau terjal dengan sudut 32,1–43,4 derajat.

Morfologi lembah yang curam, menurut Lana, membentuk lereng kritis yang sangat berpotensi terjadi gerakan tanah. Morfologi lembah berbentuk V dan mempunyai profil lurus memanjang sepanjang aliran sungai yang sempit.

Perbedaan dimensi panjang lereng 16 meter setinggi 13,8 meter, menunjukkan selisih tinggi yang signifikan sehingga membuat pengaruh gaya gravitasi terhadap material penyusun lereng makin besar. Lokasi longsor berada di ketinggian 1.346 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Berdasarkan peta zona kerentanan gerakan tanah, lokasi kejadian bencana termasuk kategori menengah.

Longsor dapat terjadi terutama pada wilayah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing pemotongan jalan, dan pada lereng yang mengalami gangguan.

Selain itu, gerakan tanah lama dapat aktif kembali yang dipicu oleh curah hujan tinggi maupun getaran.

Sementara, menurut peta prakiraan terjadinya gerakan tanah pada Januari 2026 di wilayah KBB, Kecamatan Lembang masuk pada potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi serta berpotensi banjir bandang atau aliran bahan rombakan.

Menurut Lana, gerakan tanah di Kampung Sukadami dan Kampung Cipariuk–Cihaseum bertipe sama, yakni translasi. Pergerakan tanahnya terjadi pada batas tanah yang mengalami perlapukan dan batuan.

Faktor penyebab longsor adalah adanya tanah pelapukan yang lolos air atau porous, gembur dan bersifat lepas di atas lapisan batuan vulkanik.

Kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah. Kemudian faktor kelerengan yang curam hingga sangat curam sehingga memungkinkan tanah untuk mudah dan cepat bergerak karena besarnya efek gaya gravitasi.

Selain itu, penggunaan lahan ladang dan kebun (greenhouse) sayuran labu, tomat, palawija, cabe, sayuran yang akarnya tidak mengikat tanah membuat lereng menjadi kritis.

Faktor dari air, yaitu sistem drainase berukuran sempit, sehingga aliran air tidak terkendali.

“Curah hujan dengan intensitas tinggi serta lama memicu terjadinya gerakan tanah,” kata Lana.

Gerakan tanah di lokasi bencana itu masih berpotensi berulang dan berkembang. Badan Geologi merekomendasikan antara lain agar rumah warga yang terdampak hingga rusak dan berada di zona terancam direlokasi.

Selain itu, disarankan juga tidak mendirikan atau mengembangkan bangunan pada bagian atas, tengah, atau di bawah lereng yang curam terutama pada mahkota longsoran tanpa adanya mitigasi struktural sesuai aturan pedoman yang berlaku.

Kemudian dilarang memotong lereng tegak dan tinggi yang dapat mengganggu stabilitas lereng tanpa rekayasa keteknikan penguatan lereng.