KabarSunda.com- Provinsi Jawa Barat menjadi kontributor terbesar dalam penyerapan beras nasional. Hingga awal Mei 2025, total serapan yang dilakukan Perum Bulog di Jabar mencapai 352.680 ton.
Itu merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah penyerapan di wilayah Bulog Jabar.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut capaian tersebut sebagai bukti lompatan besar dari hasil kebijakan percepatan produksi yang didorong sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia terlebih dahulu menyinggung statistik secara keseluruhan. Serapan beras nasional telah menembus 2 juta ton hingga awal bulan ini.
Fakta tersebut menjadikannya sebagai angka penyerapan tertinggi dalam kurun 57 tahun terakhir.
Amran menegaskan, hal itu merupakan lompatan eksponensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selanjutnya, secara khusus Mentan menyinggung situasi di Jabar.
“Ini tidak hanya soal angka, tapi tentang keberhasilan kita melindungi petani saat panen raya. Apalagi dengan rekor serapan tertinggi dari Jawa Barat, saya ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Bulog di lapangan,” kata tokoh asal Sulawesi Selatan itu, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 13 Mei 2025.
Kementerian Pertanian (Kementan), lanjut Amran, sejak akhir 2023 telah mendorong langkah-langkah konkret untuk meningkatkan produktivitas petani.
Hal ini mencakup peningkatan pupuk subsidi, penguatan alat mesin pertanian (alsintan), dan mekanisasi. Tak ketinggalan, dukungan teknologi di sentra-sentra produksi.
“Jika kita bisa terus jaga irama ini, Indonesia tidak hanya akan swasembada beras, tapi akan menjadi eksportir baru di kawasan. Produksi meningkat, petani untung, cadangan nasional kuat,” ujar Mentan.
Seperti sudah disiggung di atas, capaian Bulog Jawa Barat mendapat sorotan tersendiri karena menjadi wilayah dengan penyerapan tertinggi dibandingkan seluruh daerah lainnya di Indonesia.
Berdasarkan data resmi, serapan Bulog Jabar telah mencapai 352.680 ton, melampaui semua rekor sebelumnya dan menunjukkan peran sentral wilayah ini dalam memperkuat cadangan pangan nasional.
Pemimpin Wilayah Perum BULOG Jawa Barat, Mohamad Alexander, menerangkan capaian serapan di wilayahnya saatini.
Hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 177.000 ton.
“Pencapaian ini juga telah memenuhi 63,88 persen dari target penyerapan tahun ini sebesar 552.099 ton setara beras yang ditetapkan hingga akhir Mei. Kami optimistis target akhir bulan bisa terlampaui, karena beberapa daerah di Jawa Barat masih dalam masa panen raya,” kata Alexander.
Dalam memperluas jangkauan serapan, BULOG Jabar melibatkan berbagai elemen mulai dari Babinsa, mitra kerja, hingga pembentukan Tim Jemput Gabah di seluruh kabupaten/kota Jawa Barat.
Langkah demikian dinilai efektif dalam mempercepat serapan langsung dari petani dan menjaga harga tetap stabil.
Alexander juga merinci wilayah-wilayah dengan serapan tertinggi. Cabang BULOG Cirebon tercatat sebagai penyumbang terbesar dengan 104.537 ton, tertinggi secara nasional.
Disusul oleh Indramayu (83.353 ton) dan Karawang (71.336 ton), yang masing-masing menempati peringkat kedua dan keempat nasional. Kontribusi signifikan lainnya datang dari Subang (41.921 ton), Ciamis (27.392 ton), Bandung (13.848 ton), Cianjur (7.950 ton), dan Bogor (2.341 ton).
Dengan total serapan nasional yang telah melampaui 2 juta ton dan kontribusi signifikan dari Jawa Barat, pemerintah optimistis target ketahanan pangan nasional tahun ini dapat tercapai. Mentan Amran menyebut momentum ini juga sejalan dengan arah Presiden terpilih yang menjadikan swasembada pangan dan energi sebagai prioritas nasional.
Secara keseluruhan sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan USDA Rice Outlook April 2025, produksi beras negara ini diproyeksi menyentuh angka 34,6 juta ton, tumbuh 4,8 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah tersebut menempatkan Indonesia di atas negara-negara ASEAN lainnya dalam produksi beras.













