KabarSunda.com- Ratusan warga Cirateun, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, berbondong-bondong menghadiri helaran Hajat Cai pada Minggu, 12 Oktober 2025.
Dalam kegiatan tahunan itu, warga makan bersama atau *botram* di depan tugu peringatan pembuatan Torowongan Cai Coblong, sumber kehidupan bagi Kampung Cirateun sejak ratusan tahun lalu.
Ketua Badan Pengelola Situs Cagar Budaya Torowongan Cai Coblong dan Cadas Gantung, Dani Undara Abdullah, menjelaskan torowongan air Coblong merupakan peninggalan sejarah yang sangat berarti bagi warga Bandung Utara, khususnya Cirateun.
“Eyang Ngabeui, sekitar 400 tahun lalu, datang ke Kampung Cirateun untuk menyebarkan agama Islam. Agar warga mau memeluk Islam, beliau memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi masyarakat, yaitu sumber air,” ujar Dani dikutip dari Kompas.com.
Saat itu, Cirateun merupakan daerah perbukitan yang gersang dan sulit mendapatkan air.
Eyang Ngabeui bersama enam tokoh lain — Eyang Andu, Eyang Lurah, Eyang Tempang, Eyang Sebermaen, Eyang Jampereng Koneng, dan Eyang Euyeub — membuat terowongan air dengan cara memahat tebing menggunakan alat seadanya.
Terowongan Coblong menyalurkan air dari Sungai Coblong yang sebelumnya tidak terakses oleh warga Cirateun. Diameter lubang torowongan sekitar dua meter di bagian input dan satu meter di bagian output, dengan panjang sekitar 40 meter.
“Uniknya, di dalamnya tidak lurus tapi belok-belok. Orang tua dulu sudah memikirkan kalau air datang besar dari atas, maka dengan belokan, alirannya tidak langsung deras. Makanya di sini airnya belum pernah meluap,” kata Dani.
Ia menuturkan, air dari torowongan ini mengalir ke sejumlah wilayah seperti Cirateun, Negla Gegerkalong, Cirateun Wetan, Cidadap Girang, Cidadap Hilir, hingga Hegarmanah.
Sebagai bentuk penghormatan, warga membangun tugu peringatan untuk mengenang jasa para leluhur.
Tugu tersebut semula berada di atas Bukit Coblong, namun sejak 1994 dipindahkan ke lokasi yang lebih mudah dijangkau agar kebersihan dan kelestariannya terjaga.
Kini, aliran air Torowongan Coblong mulai tercemar akibat limbah peternakan sapi di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Warna air tampak coklat kehijauan meski tidak terlalu berbau.
“Harapannya kualitas airnya bisa makin baik, terowongan airnya terjaga, dan alamnya lestari. Karena sampai sekarang ini belum terjamah teknologi,” ujar Dani.











