KabarSunda.com- Tahun 2025 merupakan tahun ke-3 dimana lelang proyek Tol Getaci beum juga terwujud, dan kabar gembira pun datang setelah pemerintah menyatakan proyek jalan tol tersebut akan dilelang pada 2026 bersama 19 proyek jalan tol lainnya.
Kondisi ini membuat beberapa kali perencanaan pembangunan Tol Getaci mengalami perubahan pembangunan prioritas.
Semula pembangunannya akan diprioritaskan dari Gedebage hingga Ciamis sepanjang 108,3 kilometer, kemudian semakin menyusut menjadi Bandung hingga Tasikmalaya sepanjang 95,52 kilometer.
Meski demikian, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar menegaskan bahwa pembangunan jalan tol pertama ke Priangan Timur itu akan tetap sesuai perencanaan awal yakni dibangun dari Gedebage hingga Cilacap yang membentang sepanjang 206,65 kilometer.
Kepala Bappeda Jabar Dedi Mulyadi membongkar alasan utama mengapa proyek Tol Getaci terseok-seok hingga 3 tahun.
Ke depan langkah proyek calon jalan tol terpanjang di Indonesia itu, diharapkan akan lebih baik lagi. Selain dipastikan akan dilelang pada Tahun 2026, proyek ini kembali masuk daftar Proyek Staregis Nasional (PSN) 2025 di era Presiden Prabowo Subianto.
Dengan masuknya kembali ke dalam PSN 2025 maka ke depannya proyek ini akan mendapatkan kemudahan dan dukungan luas dari pemerintah, termasuk untuk mempercepat proses pembebasan lahan.
Pembebasan lahan saat ini masih fokus di segmen Gedebage-Garut utara sesuai dengan izin penetapan lokasi (penlok) yang telah dikeluarkan Pemprov Jabar.
Namun sayangnya saat ini sudah 3 bulan proses pembebasan lahan atau tepatnya pembayaran uang ganti rugi vakum. Pembayaran UGR terakhir dilaksanakan akhir Juli 2025 di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
Bongkar Alasan Tol Getaci Sepi Peminat
Tahun 2024, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Rachman Arief mengatakan bahwa pelaksanaan lelang proyek Tol Getaci belum terwujud karena masih sepi peminat meski setelah dilakukan beberapa kali penawaran lelang.
Untuk itu, Rachman Arief ketika itu menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu badan usaha jalan tol (BUJT) lainnya untuk masuk ke dalam proyek Tol Getaci.
Menurutnya, sejak diputuskan haus dilelang ulang pada 2022 dan sudah dua kali penawaran tender dilakukan hingga 2024, namun proyek ini tak kunjung laku.
Dia menambahkan, penawaran yang diberikan kepada calon investor masih sama seperti sebelumnya.
“Belum (ada perubahan), masih kita tawarkan seperti itu. Nanti kalau tidak ada peminatnya kita evaluasi lagi,” ujar Rachman.
Ketika itu, Rachman menyebut bahwa proyek Tol Getaci baru akan bisa mendapat investor di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu Kepala Bappeda Jabar, Dedi Mulyadi mengemukakan bahwa ada beberapa alasan proyek Tol Getaci sepi peminat.
Salah satu alasannya karena proyek ini menelan biaya investasi yang sangat besar yakni mencapai Rp 56,2 triliun.
Menurutnya, ada petimbangan bahwa Tol Getaci merupakan jalan tol pertama di Jawa Barat bagian selatan, yang notabene belum sebanding dengan jalan di bagian utara.
Sehingga, ada proses lelang ulang terhadap pembangunan Jalan Tol Getaci dengan pertimbangan untuk menarik investor.
“Ini kan pertama di Jawa Barat bagian selatan, investasinya juga besar. Jadi ada lelang baru agar menarik investor. Karena Jawa Barat bagian selatan tidak begitu tinggi daripada utara untuk hitungan bisnis,” ujarnya.
Dedi mengatakan,untuk menarik investor pemerintah melakukan berbagai langkah termasuk menentukan pembangunan prioritas.
Untuk itulah, dia menepis anggapan bahwa jalan tol ini hanya akan dibangun dari Gedebage hingga Tasikmalaya.
Ditambahkan bahwa pembangunannya tetap sesuai rencana awal yakni dari Gedebage hingga Cilacap sepanjang 206,65 kilometer.
Hanya saja pembangunannya dilakukan secara bertahap, dan pada tahap pertama akan dibangun dari Gedebage hingga Tasikmalaya.
Dia juga memaparkan bahwa dalam pembangunan Tol Getaci terdapat sejumlah koridor prioritas yang meliputi, Kota Bandung menuju Kabupaten Bandung, lalu Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan beberapa koridor lainnya.













