KabarSunda.com- Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi menyatakan, akan terus mendorong belanja daerah meski realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jabar tertinggi.
Dedi menyebut, daya serap pemerintah daerah Provinsi Jabar hingga Desember mendatang mencapai Rp 7,5 triliun. Sementara, kemungkinan sumber keuangan yang masuk sebesar Rp 6,5 triliun, serta persediaan kas sebesar Rp 2,5 triliun.
“Berarti 9 (triliun), saya bilang. Itu masih ada sisa,” ucap Dedi di Gedung Sate Bandung, Senin, 20 Oktober 2025.
Dedi mengaku dirinya tidak mau disebut realisasi APBD Jabar tertinggi. Menurutnya, realisasi selama ini masih rendah karena masih ada dana yang diperhitungkan.
“Sehingga hari ini saya instruksikan, walaupun kita sudah dikatakan sistem pengelolaan keuangannya belanja dan realisasi pendapatannya paling tinggi, saya nggak mau dikatakan yang paling tinggi. Saya masih paling rendah,” kata Dedi.
Dedi menyebut masih ada anggaran sebesar Rp 500 miliar yang akan terus didorong untuk belanja perbaikan infrastruktur.
“Karena masih ada duit yang nanti di hitungan Desember itu masih ada perhitungan sekitar, space-nya 500 (miliar) itu tadi. Dan yang 500 itu, hari ini sudah saya putuskan untuk terus didorong menjadi belanja. Belanjanya adalah kebutuhan infrastruktur publik yang mendasar,” ujar Dedi.
Eks Bupati Purwakarta itu mengatakan akan terus mendorong penambahan ruas jalan dan melakukan perbaikan atau hotmix. Ia menargetkan perbaikan jalan ini akan selesai pada Desember mendatang.
“Ya terutama di antaranya jalan-jalan yang hotmix itu saya nggak mau lihat jalan provinsi dari berbagai daerah bergelombang, termasuk menuju arah Kota Bandung. Itu walaupun kata orang bagus, kata saya jelek,” ucap Dedi.
“Itu masih ada gerejek-gerejek-gerejek, nggak boleh. Jadi tahun ini Desember nanti harus mulus,” tambahnya.
Tito: Jabar Provinsi Terbaik
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memaparkan realisasi pendapatan dan belanja daerah pada tahun anggaran 2025 di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (20/10).
Dari paparannya, Tito menyebut idealnya sebuah daerah memiliki pendapatan tinggi dan belanja yang juga tinggi. Namun tetap menyisakan beberapa persen dari anggarannya untuk dana darurat.
Dengan perspektif itu, Tito menyebut Jabar yang notabene dipimpin Gubernur Dedi Mulyadi itu merupakan provinsi terbaik dalam realisasi pendapatan dan belanja daerah.
“Nah, kami lihat dengan skenario pendapatan tinggi dan belanja tinggi, yang terbaik adalah Jawa Barat, Pak. Pendapatannya 73%, belanjanya 66%. Jawa Barat,” ucap Tito.











