KabarSunda.com- Kementerian Pekerjaam Umum (PU) sedang melaksanakan pembangunan 15 bendungan di sejumlah wilayah Indonesia.
Pembangunan bendungan tersebut bertujuan untuk meningkatkan ketahanan air dan pangan secara nasional.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pembangunan bendungan harus dibarengi pembangunan saluran konektivitas dan rehabilitasi jaringan irigasi.
“Dengan suplai irigasi yang terus berkelanjutan, harapannya air bisa mengalir ke sawah-sawah sehingga produktivitas petani juga meningkat, petani semakin sejahtera,” katanya dilansir dari laman Kementerian PU.
Daftar 15 Bendungan Tahap Konstruksi
Dikutip dari unggahan akun Instagram Kementerian PU pada Selasa (21/10/2025), berikut daftar 15 bendungan yang masih dalam tahap konstruksi beserta progresnya:
- Bendungan Tiga Dihaji di Sumatera Selatan, progres 60,19 persen
- Bendungan Cibeet di Jawa Barat, progres 8,71 persen
- Bendungan Cijurey di Jawa Barat, progres 34,13 persen
- Bendungan Bener di Jawa Tengah, progres 63,87 persen
- Bendungan Jragung di Jawa Tengah, progres 88,03 persen
- Bendungan Cabean di Jawa Timur, progres 89,43 persen
- Bendungan Karangnongko di Jawa Tengah progres 35,52 persen, serta Bendungan Karangnongko di Jawa Timur progres 39,52 persen
- Bendungan Bagong di Jawa Timur, progres 79,88 persen
- Bendungan Riam Kiwa di Kalimantan Selatan, progres 0 persen
- Bendungan Jenelata di Sulawesi Selatan, progres 19,1 persen
- Bendungan Budong-Budong di Sulawesi Barat, progres 63,7 persen
- Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo, progres 89,48 persen
- Bendungan Way Apu di Maluku, progres 94,59 persen
- Bendungan Manikin di NTT, progres 66,27 persen
- Bendungan Mbay di NTT, progres 89,43 persen
15 Bendungan Ditargetkan Selesai Sebelum 2029
Kementerian PU menargetkan konstruksi 15 bendungan tersebut dapat selesai sebelum tahun 2029.
Selesainya 15 bendungan tersebut berpotensi memberikan layanan irigasi baru seluas 184.515 hektare, sehingga diharapkan luas tanam turut meningkat dari semula 277.775 hektare menjadi 483.163 hektare.
Ketersediaan air irigasi dari 15 bendungan on going ini diharapkan juga meningkatkan produktivitas panen dari 1.403.300 ton per hektare menjadi 2.343.289 ton per hektare.
Petani yang biasa mengandalkan suplai air dari tadah hujan dinilai dapat terpenuhi melalui air irigasi yang berkelanjutan, sehingga Indeks Pertanaman (IP) naik dari semula 150 persen menuju 262 persen dengan skala panen dari sekali setahun menjadi 2-3 kali dalam setahun.
240 Bendungan Telah Dibangun
Sejak tahun 1902 hingga 2014, telah dibangun 187 bendungan. Kemudian periode 2015–2024 telah selesai 53 bendungan dengan pemanfaatan layanan irigasi tersebar di 67 Daerah Irigasi (DI).
67 DI yang dimaksud terdiri dari 7 DI melalui pembangunan saluran dari outlet bendungan ke sistem irigasinya seperti DI Baro Raya, DI Tugu Sistem, DI Tukul, DI Budong-Budong, DI Way Apu Sistem, DI Pidekso, dan DI Rababaka Kompleks (DI Tanju-DI Rababaka).
Kemudian pemanfaatan irigasi dari bendungan sisanya tersebar di 60 Daerah Irigasi melalui pembangunan/rehabilitasi/peningkatan lanjutan di dalam sistem irigasi, di antaranya DI Krueng Pase di Aceh, DI Bandar Sidoras di Sumut, DI Komering di Sumsel, DI Rentang di Jabar, DI Gondang di Jateng, DI Bendo di Jatim, DI Lolak Atas di Sulut, DI Gilireng di Sulsel, dan DI Rotiklot di Nusa Tenggara Timur.
Adapun keberadaan 53 bendungan yang telah selesai tersebut ditargetkan dapat menyuplai air irigasi hingga 310.170 hektare lahan pertanian.
Dengan integrasi pembangunan bendungan dan jaringan irigasi ini, Kementerian PU berharap petani tidak lagi bergantung pada tadah hujan.
Ketersediaan air yang tentu akan mendorong peningkatan intensitas tanam, dari luas tanam semula 502.403 hektare menjadi 798.263 hektare dengan rata-rata panen satu kali per tahun menjadi dua hingga tiga kali.
Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian dari 3.122.418 ton per tahun menjadi 4.789.582 ton per tahun.











