Budaya  

Ekspedisi Gua Kafir, Dunia Sunyi di Tasikmalaya yang Menyimpan Kehidupan Rahasia

KabarSunda.com- Di balik perbukitan kapur Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terdapat ruang kehidupan yang tersembunyi, lembap, dan gelap total.

Tempat itu dikenal sebagai Gua Kafir, gua horizontal yang telah ditelusuri sejauh 450 meter oleh tim gabungan penelusur gua, meski banyak lorong dan cabang yang belum terpetakan sepenuhnya.

Eksplorasi di gua ini belum mencapai titik akhir. Dalam kegelapan yang dalam, tim menemukan sejumlah jalur yang belum sempat dijelajahi, bahkan diduga ada koneksi alami menuju Gua Safarwadi yang berlokasi tidak jauh dari sana.

Lebih dari sekadar ruang batu berstalaktit, Gua Kafir merupakan sistem sungai bawah tanah yang terhubung dengan jaringan hidrologi kawasan Bantarkalong. Air dari area persawahan di permukaan perlahan merembes dan mengalir di bawah tanah sebelum muncul kembali di titik lain, menjadi bagian penting dari sirkulasi air alami.

Saat musim hujan, kondisi gua berubah drastis. Arus air yang biasanya tenang dapat meluap deras hingga mencapai atap gua, menunjukkan betapa berbahayanya potensi banjir bawah tanah.

Ketua Caves Society (CS) Aris Rifqi Mubaraq mengatakan di sela ekspedisi dua hari itu bahwa “Gua ini hidup, airnya bergerak, dan setiap musim hujan bisa berubah menjadi sangat berisiko.”

Pada ekspedisi 4–5 Oktober 2025 tersebut, para penelusur menandai bekas genangan air di dinding gua—bukti nyata betapa tinggi muka air ketika debit sungai meningkat secara signifikan.

Ekosistem dalam Gelap

Meskipun diselimuti kegelapan dan keheningan, Gua Kafir menyimpan kehidupan unik yang jarang terlihat. Di sela-sela batu lembap dan genangan air, para penelusur mendapati berbagai fauna khas gua seperti kelelawar pemakan serangga, kalacemeti, kalacuka, jangkrik, kepiting gua, kodok, hingga laba-laba kecil.

Kelelawar, menurut kalangan biologi, menjadi indikator penting ekosistem bawah tanah sekaligus pengendali alami hama di lahan pertanian sekitar Bantarkalong. Hewan nokturnal ini memiliki jangkauan terbang luas dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem di permukaan.

Namun, kondisi udara di beberapa bagian gua terasa menyesakkan. Mnegutip dari ANTARA, bau amonia kuat tercium di sepanjang 200 meter awal lorong gua, berasal dari tumpukan guano—kotoran kelelawar dan burung laut—yang menimbun selama bertahun-tahun tanpa pengurai alami.

“Begitu melewati area itu, udara mulai lebih segar. Populasi kelelawarnya semakin sedikit, mungkin karena faktor kelembapan dan sirkulasi udara yang berbeda,” ujar Aris.

Jejak Spiritual di Balik Batu

Selain nilai ekologinya, Gua Kafir juga memancarkan nuansa mistik. Di beberapa titik, ditemukan ruang kecil di batu datar yang tampak pernah digunakan untuk bersemedi. Ada sisa dupa, kain, dan susunan batu menyerupai altar kecil—menandakan adanya aktivitas spiritual yang telah berlangsung lama.

Warga sekitar menyebut gua ini kerap didatangi orang yang mencari “ketenangan batin” atau tujuan spiritual tertentu, bahkan dikaitkan dengan praktik pesugihan.

Fenomena tersebut terasa kontras dengan identitas kawasan Pamijahan yang dikenal sebagai pusat penyebaran Islam dan memiliki tradisi religius Sunda yang kuat.

“Ini jadi cermin kontras antara spiritualitas, mitos, dan keindahan alam dan dijadikan laboratorium alam,” tutur Aris.

Menjaga Alam yang Tersembunyi

Para penelusur sepakat bahwa Gua Kafir memiliki nilai ekologis dan konservasi yang tinggi. Gua ini bukan hanya rumah bagi kelelawar, tetapi juga elemen penting dalam menjaga keseimbangan hidrologi kawasan. Air yang mengalir di dalamnya menjadi indikator kesehatan tanah dan daerah tangkapan air di permukaan.

Kerusakan lahan di sekitar gua—akibat penebangan, alih fungsi, atau limbah—berpotensi mengganggu sistem bawah tanah. Jika itu terjadi, kualitas air bisa menurun, populasi fauna gua berkurang, dan fungsi ekologinya pun terancam hilang.

Karena itu, diperlukan upaya konservasi seperti penataan kawasan mulut gua, pelarangan aktivitas destruktif, dan edukasi publik tentang pentingnya peran kelelawar sebagai pengendali hama alami.

Di sisi lain, potensi Gua Kafir untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata speleologi dapat dipertimbangkan dengan pembatasan ketat agar keseimbangan ekosistem dan keselamatan penelusur tetap terjaga.

Kolaborasi Lintas Komunitas

Ekspedisi Gua Kafir melibatkan kolaborasi dari berbagai komunitas speleologi dan pecinta alam: Caves Society (CS), Tasikmalaya Caving Community (TCC), Bandung Speleological Activity (BSA), Mapala Parahita, Mapak Alam Bandung, Guntapala, Sispala Trigawaran, Sispala Sapala 67, Sispala Tracker, Sispala Phipetala, Bardapa Adventure, dan Alkahfi Adventure.

Dengan semangat gotong royong, mereka menelusuri lorong-lorong gelap demi memetakan, mendokumentasikan, dan memahami ekosistem bawah tanah ini secara ilmiah. Misi tersebut bukan hanya tentang eksplorasi fisik, tetapi juga bentuk edukasi lingkungan bahwa keindahan alam sejati sering tersembunyi di bawah tanah.

Antara Alam dan Manusia

Gua Kafir adalah fragmen kecil dari sistem alam besar yang kompleks. Di dalamnya tersimpan air, kehidupan, dan kisah spiritual manusia. Dalam kegelapan dan suara tetes air yang konstan, gua ini menjadi saksi interaksi manusia dengan alam—kadang bijak, kadang lalai.

Menjaga Gua Kafir berarti melestarikan keseimbangan antara manusia dan bumi. Di balik keheningan gua, ada pesan tentang tanggung jawab untuk melindungi kehidupan yang tidak terlihat—agar generasi mendatang masih dapat merasakan keajaiban dunia bawah tanah ini.