KabarSunda.com- Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengirimkan 200 psikolog ke berbagai sekolah sebagai upaya menangani kasus kenakalan remaja di lingkungan pendidikan.
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran atas perilaku menyimpang siswa yang dinilai kian memprihatinkan.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, kebijakan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan psikologis yang lebih intensif kepada para siswa dalam menanggulangi kenakalan dan kasus lainnya di lingkungan sekolah.
Setiap sekolah akan ditempatkan satu orang psikolog untuk memperkuat fungsi bimbingan dan konseling yang selama ini hanya ditangani oleh guru BK.
“Jadi ada 200 psikolog yang akan saya terjunkan ke sekolah-sekolah. Jadi rupanya guru BK tidak cukup untuk menangani anak hari ini. Nanti setiap sekolah saya rencanakan didampingi oleh satu orang psikolog anak,” ujar Dedi di Bandung, Jumat, 18 Juli 2025.
Dedi menerangkan, alasan di balik penempatan psikolog di sekolah adalah untuk memutus kasus pelajar bunuh diri, seperti yang baru saja terjadi di salah satu SMA negeri di Kabupaten Garut, Jabar.
“Psikolog yang saya tempatkan ini sudah beberapa kali bisa mencegah anak-anak bunuh diri,” katanya.
Berkaca pada kasus pelajar bunuh diri di Garut, menurut Dedi, ada banyak faktor eksternal yang memengaruhinya.
Dia bahkan menemukan adanya komunitas pelajar yang memiliki kesamaan nasib sehingga mendorong para anggotanya berbuat sesuatu yang negatif.
“Kan ini ada sejenis apa ya, kayak terpapar gitu loh. Ada terpapar, ada orang berkelompok, kemudian merasa sama nasibnya, merasa spiritnya sama. Itu seperti terjadi di luar negeri, dan penyakit yang ada di luar negeri itu sudah hari ini dialami oleh anak-anak,” tuturnya.
Dedi berharap kehadiran psikolog di sekolah ini bisa membentengi para siswa agar tidak terpapar oleh hal-hal negatif yang berdampak pada kesehatan mental mereka.
“Mudah-mudahan ini pembelajaran penting bagi kita untuk segera dilakukan langkah-langkah, dan yang paling utama juga kita harus memperhatikan SMA-SMA lain. Saya khawatir peristiwa yang seperti ini ada di SMA yang lain,” kata Dedi.











