KabarSunda.com- Kota Cirebon kini memiliki perangkat baru untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi.
Perangkat bernama Display Early Warning System (DEWS) resmi dipasang pada 2025 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat di area Gedung Sekretariat Daerah (Setda) dan Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon.
Sekretaris Daerah Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan perangkat tersebut langsung terhubung dengan sistem informasi seismik milik BMKG sehingga mampu mengirimkan notifikasi secara cepat apabila terjadi aktivitas gempa bumi dengan kekuatan di atas 4 skala Richter.
Menurutnya, pemasangan DEWS merupakan bagian dari strategi membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana.
“Begitu sensor membaca adanya aktivitas gempa signifikan, alarm akan berbunyi dan petugas di Setda segera menyalakan sirene peringatan. Mekanisme ini diharapkan memberi waktu lebih cepat bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi,” ujarnya, Senin, 22 September 2025.
Ditambahkan Agus, keberadaan perangkat ini tidak hanya sekadar teknologi, melainkan bentuk komitmen pemerintah kota untuk melindungi keselamatan warganya.
“Risiko kerusakan bisa ditekan, sementara masyarakat mendapat sinyal bahaya lebih dini. Dengan begitu, potensi korban jiwa dapat diminimalisasi,” tambahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon Andi Wibowo mengungkapkan pihaknya telah mengajukan permintaan alat ini sejak 2024. Setelah melalui proses verifikasi, BMKG akhirnya menyetujui dan merealisasikan pemasangan pada tahun ini.
Sebagai tindak lanjut, BPBD berencana menggelar simulasi tanggap darurat gempa bumi pada akhir 2025. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada November atau Desember dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, relawan, kalangan pelajar, jurnalis, hingga kelompok masyarakat.
“Simulasi ini penting agar masyarakat terbiasa merespons ketika sirene berbunyi. Tanpa latihan, alat secanggih apa pun tidak akan optimal,” tegas Andi.
Hadirnya perangkat ini dianggap strategis mengingat posisi Cirebon berada di wilayah rawan aktivitas seismik. Beberapa kali guncangan gempa terasa di kota pesisir utara Jawa Barat ini meski pusat gempa berada cukup jauh di selatan Jawa.
BMKG Pusat memastikan seluruh komponen instalasi, mulai dari sensor hingga perangkat alarm, dipasang sesuai standar internasional. Sistem ini akan terus diperbarui melalui jaringan komunikasi langsung dengan server pusat di Jakarta, sehingga keandalan informasi dapat dijamin.
Pemerintah Kota Cirebon berharap kehadiran DEWS dapat menjadi momentum untuk memperkuat budaya sadar bencana. Selain menyiapkan infrastruktur, masyarakat juga diminta lebih disiplin mengikuti jalur evakuasi, memahami titik kumpul, serta aktif dalam simulasi yang digelar.
“Teknologi hanyalah satu sisi. Keselamatan sangat bergantung pada kesiapan mental dan keterampilan warga ketika bencana benar-benar terjadi,” tutup Agus.











